Select Menu

Prestasi

Karya Siswa

Profil Siswa

Karya Guru

Profil Guru

Info Pendidikan

Puisi Kehilangan Karya Guru

Puisi berjudul "Kehilangan" ini buah karya dari Emilia, S.Pd., seorang  guru Bahasa Indonesia MTs Negeri Majenang. Beliau alumnus Universitas Galuh, Ciamis. Saat ini berdomisili di Karangpucung. Beliau mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas 7 dan 8. Puisi tersebut  menceritakan seorang ibu yang kehilangan buah hatinya. Sang ibu merasakan kesedihan yang begitu dalam.


 Kehilangan

Jemari mungil nan lentik tak bernoda dan berdosa
pupus dihempas tirani dunia
Induk yang kehilangan sangkar emasnya
terjerat kehampaan semu yang nyata
Lenterapun terdiam duduk manis menanti empunya

Jiwa tak berpenghuni terlelap dalam buaian rindu
Melati putih mongering di atas pusarannya
Namanya terukir indah dalam nisan kokoh

Amboi … begitu  pahitnya
Angin berlarian menembus batas cakrawala
Daun-daun kering  gugur tak tentu arah langkahnya
Kesunyian menyelimuti malam tak berbintang
Mendekap gerimis yang tak kunjung hilang

***

Alumni yang Sukses

Daftar Alumni MTs Negeri Majenang yang telah sukses di masyarakat.


Drs. Fathul Aminuddin Aziz, MM 
(Dosen STAIN Purwokerto, Dewan Pengasuh PP. El Bayan Majenang, - Sekretaris Yayasan Elbayan Majenang, Ketua Yayasan Nurjalin, Ketua GP. ANSHOR Cilacap, Direktur BMT Rembulan, Steering Commite LSM Kober.)


 Tri Mulyanto, S.Pd.
(Guru PNS MTs Negeri Majenang)


 Nurul Mukaromah, S.Ag.
(Guru PNS MTs Negeri Majenang)


Pengalamanku Menjadi Bintang Kelas


Oleh: Siti Faridah 
Siswa Kelas VII B

Semua orang pasti senang saat mendapat juara 1 paralel. Begitu pula halnya dengaku. Aku sangat bersyukur kepada Allah SWT disertai ucapan terima kasih kepada orang tua atas prestasiku. Aku tidak menyangka kalau aku dapat meraih peringkat 1 paralel di kelas VII pada semester gasal kemarin. 

Saat pengambilan raport, aku tidak berangkat ke sekolah. Karena saat itu aku sedang sakit. Kakaklah yang mengambil raportku. Di rumah aku menunggu-nunggu  kakak. Aku tidak sabar ingin melihat hasil belajarku selama ini. Aku terus berdo’a kepada Allah SWT. “Ya Allah, semoga hasil raportku baik, amin,” demikian kata hatiku.

Setelah menunggu sekian lama, akhirnya kakakku pulang. Aku langsung membuka raportku. Alhamdulillah nilai raportku baik kemudia kakak memberirtahu bahwa aku mendapat peringkat 1 paralel di kelas VII. AKu pun mendapat hadiah berupa buku tulis. Dengan hasil ini aku tidak boleh sombong.

Sekarang yang harus aku lakukan adalah mempertahankan prestasiku. Aku juga harus lebih giat belajar. Aku akan berusaha agar prestasi yang telah kuraih ini dapat dipertahankan bahkan lebih meningkat lagi.

***




Bu Nurul, Sosok Wanita Karier plus Ibu Rumah Tangga

Oleh: Deni Kurniawan As'ari
Admin Weblog MTs Negeri Majenang dan Pembimbing Eskur Jurnalistik
 
Nurul Mukaromah
Namanya Nurul atau lengkapnya Nurul Mukaromah. Lahir di Cilacap, pada 26 Januari 1973. Staf pendidik yang mengampu mapel Bahasa Arab di MTs Negeri Majenang tersebut dalam beberapa bulan belakangan ini harus bolak-balik rumah-MTs. Mengapa? Ya, karena belum genap empat bulan belia melahirkan putrinya yang ketiga. Jadilah  harus meluangkan waktu menyusui sang buah hati tercinta. Untung rumahnya yang di Rawalo-Pahonjean tidak begitu jauh dari MTs—hanya berjarak sekira 2 KM. Sehingga cukup menggunakan sepedanya dalam saat pergi dan pulang dari rumah ke MTs.

Isteri dari Bapak Akhmad Saebani—-staf pengajar SMK Diponegoro Majenang dituntut mampu berperan ganda. Satu sisi sebagai wanita karier, dan sisi lain sebagai ibu rumah tangga. Tugas keduanya harus ditunaikan dengan bai. Berat tentu saja. Namun, seperti halnya sebuah ungkapan: hidup adalah pilihan dan konsekuensi. Jadi, seberat apa pun, Bu Nurul yang alumnus STAIN Purwokerto tak kenal menyerah. Dia tunaikan tugas sebagai guru dan sekaligus ibu rumah tangganya dengan penuh tanggung jawab. Hal ini karena konsekuensi atas pilihannya yang semenjak kecil bercita-cita menjadi guru.

Setiap pagi datang ke MTs menaiki sepeda untuk menunaikan tugas mengajar. Kemudian saat istirahat tiba atau jam kosong beliau sempatkan pulang dulu ke rumah untuk menyusui sang buah hati. Selepas pulang sekolah wanita paruh baya itu berjibaku dengan tugas di rumah seperti ibu pada umumnya. Tidak ketinggalan beliau berbagi cerita, bermain dengan anak-anak, dan malam harinya mengajari anak mengaji. 

Paginya selepas bangun tidur kembali bersibuk ria untuk memasak. Rupanya Bu Nurul punya prinsip bahwa suami dan anak-anaknya harus sarapan hasil masakannya sendiri. Yang menarik, beliau sendiri seringnya tidak sempat sarapan di rumah. “Kalau saya cukup sarapan di MTs saja, karena tidak kebagian waktu untuk sarapan pagi di rumah,” ujarnya.
Lantas apa yang ingin dicapai sosok ini dengan aktivitasnya yang padat itu? Apakah kebahagiaan, kepuasan, eksistensi, aktualisasi diri atau apa? Beliau pun berkata, “Saya niati semua kegiatan atau pekerjaan dilakukan dalam rangka ibadah. Insya Allah, selama ini saya menjalaninya dengan nyaman, enjoy dan tanpa merasa terbebani.”
Ya ya, ibadah. Ternyata motivasi itulah yang melandasi anak keempat dari 8 bersaudara itu untuk melakukan berbagai aktivitas yang berat dan seolah tak pernah henti. Motivasi ini sungguh luar biasa. Karena akan membuat seseorang melakukan aktivitas dengan penuh rasa tanggung jawab dan sekaligus enjoy. Seberat apa pun jikalau niatnya telah lurus, maka yang berat itu bisa terasa ringan bahkan sangat ringan.

Bu Nurul yang hobinya membaca telah dikaruniai 3 anak. Azka (12 tahun), Zaki (6 tahun) dan terakhir Zahroh (4 bulan). Ketiga putra/i-nya diberi perhatian dan kasih sayang yang penuh. Tidak lupa berupaya untuk memberikan pendidikan yang memadai dengan memasukkan ke sekolah yang dinilai paling baik. Di samping itu semua anaknya akan dipersiapkan untuk mengikuti pendidikan yang optimal di masa depan. Bahkan dapat mengenyam kuliah di perguruan tinggi terbaik.


Tugas Berat, Namun Berlimpah Pahala
Pembimbing Juara 1 MTQ
Saat melahirkan, wanita karier dihadapkan pada tugas yang berat. Aktivitas kerja yang harus ditunaikan dan kewajiban menyusui sang bayi menjadi rutinitas yang tidak ringan. Banyak wanita yang pada akhirnya menyerah dan lebih memilih menjadi ibu rumah tangga saja saat melahirkan.

Namun, sebagian lain—termasuk Bu Nurul tetap komitmen untuk melaksanakan tugas ganda tersebut. Kuncinya apa? Niat yang lurus disertai Ketangguhan dan keikhlasan untuk menjalaninya. Mau tidak mau saat bekerja sebenarnya hati dan pikiran banyak tersita di rumah, teringat pada sang buah hati terlebih saat anak sakit. Disinilah kemampuan memenej diri dipertaruhkan. Bagi yang tidak kuat dapat menjadi beban tersendiri yang dirasa berat.

Memang, para ibu—-termasuk Bu Nurul, kalau berhasil menunaikan peran ganda dengan baik akan mendapat reward yang besar. Mereka selain mendapat penghasilan juga kepuasan dan kebanggaan diri. Di samping itu akan lebih disayangi suaminya karena bisa membantu menopang keuangan, terlebih di masa krisis ekonomi seperti saat ini. Begitu pun mendapat pahala berlipat karena ikut menyebarluaskan ilmu kepada anak didik.

Melly Kiong dalam bukunya Siapa Bilang Ibu Bekerja Tidak Bisa Mendidik Anak dengan Baik (2009:9) menyatakan: “Tidak bisa dimungkiri, masalah ekonomi mendapat posisi pertama sebagai sumber masalah terbesar dalam kehidupan rumah tangga. Karena itu, kalau seorang ibu rumah tangga ikut andil dalam ekonomi keluarga, dia memiliki kesetaraan posisi dan peran sehingga dimungkinkan dia lebih dihargai suami.”

Pernyataan ini nampaknya dirasakan betul oleh Bu Nurul Mukaromah. “Saya merasa bahagia ketika mampu menunaikan pekerjaan sekaligus dapat ngopeni (merawat) anak dengan baik. Bangga rasanya bila semua pekerjaan terselesaikan dengan baik. Bahkan ada kebahagian tersendiri yang tidak dapat dilukiskan ketika mau pulang untuk menyusui sang buah hati. rasanya seneng banget,” ungkap wanita yang pernah sekolah di MTs dan Majenang tersebut. “Adapun sedihnya kalau saya bangun kesiangan karena pekerjaan rumah terutama memasak menjadi terganggu,” paparnya.

Saat ini pun, Bu Nurul  menjadi 'orang tua' bagi para adiknya. Semenjak ayah dan ibunya meninggal, maka praktis yang menggantikan peran orang tua bagi adiknya  adalah beliau. Tugas yang tentu tidak ringan. Namun, wanita paruh baya yang pintar Bahasa Arab tersebut sudah bertekad ingin menjadi orang yang bermanfaat, khusus bagi keluarga dan umumnya masyarakat. "Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya." demikian salah satu motto hidupnya.

Hidup adalah pilihan dan konsekuensi. Ketika Bu Nurul telah mantap memilih menjadi wanita karier sekaligus ibu rumah tangga,  maka seberat apa pun berbagai tugas dan kewajibannya ditunaikan  dengan penuh semangat dan enjoy. Demi masa depan yang lebih baik.
“Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (At-Taubah [9]: 105)

Muttasir : Jalani Tugas dengan Ikhlas dan Profesional

Drs. Muttasir
Guru merupakan sebuah profesi, karenanya kita harus menjalaninya dengan ikhlas, profesional dan dilandasi ibadah," demikian ungkap Bapak Drs. Muttasir, guru matematika MTs Negeri Majenang yang sekaligus Wakil Kepala Kurikulum. 

Ayah Dian Rahayu Kurniasih (Alm.) dan Dwi Putra Abdillah Kurniawan itu pria asli dari Majenang, yang lahir pada tanggal 5 Oktober 1965. Pendidikan Pak Tasir diawali dari TK Aisyiyah (1971), SD Muhammadiyah Pahonjean (1977), SMP Muhammadiyah Majenang (1981), SMA Muhammadiyah Majenang (1984) dan selanjutnya menempuh pendidikan di IAIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan mengambil jurusan Tadris Matematika. Kemudia sejak tahun 1993 resmi menjadi PNS dengan ditempatkan di MAN Cilacap kemudian pada 1 Oktober 1999 pindah ke MTs Negeri Majenang.

Suami dari Ibu Dra. Neny Laela Irmayanty ----guru Mts Negeri Majenang----   itu termasuk guru senior yang telah banyak merasakan asam garamnya dunia pendidikan. Selain mengajar mapel matematika, beliau mendapat amanah menjadi Wakil Kepala Kurikulum sejak tahun 2001 sampai sekarang. Tak heran, karena pengalamannya yang panjang itulah beliau berhasil mengantarkan siswa-siswinya kelas IX pada tahun ini meraih kelulusan 100 persen. Tentu, prestasi ini merupakan hasil kerja bersama  semua stake holder MTs Negeri Majenang dibawah kepemimpinan Bapak H. Moch. Makhrus, S.Pd., M.Pd. Namun, perannya sebagai orang yang menggawangi 'dapur kurikulum'  juga tak bisa diremehkan. Maka menjadi wajar, ketika saat rapat evaluasi akhir tahun pelajaran 2010-2011, Sabtu kemarin beliau mendapat hadiah dari Kepala Madrasah, Bapak H. Moch. Makhrus, S.Pd., M.Pd karena dinilai sukses sebagai waka kurikulum.    

Dalam kacamata beliau, MTs Negeri Majenang sebagai satu-satunya MTs Negeri yang berada di Majenang memiliki posisi  yang penting dan strategis di tengah masyarakat. "MTs Negeri Majenang sangat dinamis dan selalu berusaha untuk mengedepankan akhlakul karimah," ujarnya. Tak pelak sudah banyak alumni dari MTs Negeri Majenang yang telah sukses dan aktif berkiprah di tengah-tengah masyarakat. 

Tanamkan Kemandirian dan Kejujuran
Sosok yang jago bermain tenis meja ini berpesan kepada segenap guru agar berupaya untuk menanamkan kemandirian dan kejujuran kepada peserta didik. Hal ini penting, mengingat  salah satu fungsi pendidikan di tingkat dasar dan menengah adalah meletakkan nilai-nilai yang akan menjadi pedoman para siswa ketika telah terjun di masyarakat.

"Bila semua guru menjalani kewajibannya secara profesional, qona'ah, dan dilandasi rasa syukur maka tingkatan sejahtera tergantung pada diri sendiri" demikian pandangan Pengurus Dikdasmen PCM Muhammadiyah Majenang ini ketika ditanya seputar kesejahteraan guru saat ini.

Info MTs