Select Menu

Prestasi

Karya Siswa

Profil Siswa

Karya Guru

Profil Guru

Info Pendidikan

Alumnus yang Menjadi Guru Bahasa Indonesia

Sososk Alumni
“Bangga dan bersyukur sekali,” itulah ungkapan Tri Mulyanto, S.Pd. salah satu alumni MTs Negeri Majenang yang saat ini menjadi guru di almamaternya sendiri. Tak heran ia tetap enjoy mengajar walaupun rumahnya cukup jauh dari MTs Negeri Majenang yaitu berada di Mulyasari, Pataruman, Banjar, Jawa Barat. Setiap hari ia bolak balik Banjar-Majenang dengan sepeda motor gedenya.

Beliau bercerita sambil mengenang masa lalunya saat masih menjadi siswa. “Delapan Belas tahun silam, tepatnya 1993-1996, saya mengenyam pendidikan di MTs Negeri Majenang. Saat itu saya selalu berusaha memposisikan diri sebagai siswa yang baik. Namun, tak dipungkiri sesekali tanpa unsur kesengajaan datang terlambat atau lupa tidak mengerjakan PR,” tutur pria yang lahir pada 8 April 1981 itu sembari tersenyum. 

Ia yang kini sudah menjadi guru PNS itu masih ingat betul bahwa sarana prasarana yang dimiliki MTsN Majenang  masih sangat ketinggalan dan berbeda jauh dengan sekarang. “Saat itu sarana prasarana untuk belajar sangat terbatas. Belum ada LCD, laboratorium, perpustakaan  bahkan OHV juga belum ada,” kenangnya. Suami dari Diah Nurhidayani, S.Pd (guru PNS SD di Banjar) ini merasakan bahwa kondisi MTs Negeri Majenang saat ini sudah mengalami peningkatan yang pesat. Menurutnya saat ini semuanya sudah lengkap dan serba ada. 

“Sekarang proyektor ada, laboratorium ada, perpustakaan juga bukunya lengkap,”  ujar ayah dari Makayla Azzra Ridian Mulia dan Raisya Mulia Elzannazira tersebut bersyukur. Beliau berpesan kepada  seluruh siswa MTsN Majenang untuk lebih giat dan semangat dalam belajar karena fasilitas saat ini sudah memadai. Dengan fasilitas yang lebih memadai tentunya proses pembelajaran akan lebih efektif. 

Hj. Jamilatun Munawaroh, S.Pd salah seorang guru Tri Mulyanto saat kelas VIII dulu dan saat ini menjadi rekan sejawat memberikan pendapatnya. “Tri Mulyanto termasuk kategori siswa yang pintar, seringnya kalau duduk berada di depan.  Saat menjadi siswa Tri agak pendiam,” ujar waka humas tersebut. 

Tri, demikian panggilannya, mengawali pendidikan di MI Ma’arif Limbangan, Wanareja (Lulus 1993), MTs Negeri Majenang (Lulus 1996), SMU Negeri 1 Dayeuhluhur (Lulus 1999). Adapun gelar sarjana pendidikannya diperoleh di Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) pada jurusan Pendidikan Bahasa Indoenesia pada tahun 2003. 

Selepas lulus kuliah, pehobi olahraga sepeda santai ini langsung mengajar di dua madrasah yakni MTs YPI Sufyan Tsauri Limbangan Wanareja dan MTs Negeri Majenang. Pengabdiannya di MTs YPI berakhir pada tahun 2004 dan lebih memilih untuk fokus mengajar di almamaternya. Rupanya pilihan Tri tidak sia-sia dan dewi fortuna mengiringi langkah hidupnya. Tepat pada tahun 2005 atau dua tahun selepas lulus kuliah ia diangkat menjadi guru CPNS di almamaternya sendiri. Boleh dikata apa yang dialami Tri jarang terjadi. Banyak saat ini guru yang telah lama mengabdi bertahun-tahun bahkan berpuluh tahun namun belum juga diangkat menjadi PNS. Bisa jadi nasib baik Tri Mulyanto tidak lepas dari do’a orang tuanya dan ia dikenal sebagai sosok anak yang hormat, taat dan sayang sama orang tuanya. 

Menjadi guru yang dapat digugu dan ditiru serta menjadi guru profesional merupakan harapan yang ingin ia capai dalam karirnya sebagai guru. Ia berpandangan bahwa pendidikan merupakan modal dasar bagi suatu negara untuk mencapai kemajuan di segala bidang dan sosok guru profesional berperan penting dalam mewujudkannya.
***
(Dka, 2014)

Sukur : Curahkan Ilmu dengan Rasa Senang

Begitu singkat namanya, Sukur. Dalam kedinasan tertulis Drs. H. Sukur. Mungkin karena namanya itulah yang membuat pria yang enam tahun lagi akan purna sebagai guru pns ini memiliki sikap yang senantiasa bersyukur dalam hidupnya. Sosoknya yang kalem, ramah dan humoris memberi energi positip bagi siapapun yang dekat dengannya. Di lingkungan MTsN Majenang ia menjadi sesepuh dan langganan memimpin  do’a dalam berbagai kesempatan baik acara madrasah maupun pribadi.

Suami dari Umi Khafsoh ini lahir di Cilacap, pada 10 Mei 1960. Mengawali pendidikannya di SDN Rejodadi 01 (lulus 1973), MTs Darwata Majenang (lulus 1977), MA Darwata Majenang (lulus 1981) dan IAIN Walisongo, Semarang (lulus 1987).   

Pengalaman karirnya cukup menarik dan sempat beberapa kali mengalami mutasi. Pertama kali diangkat CPNS menjadi staf di Kantor Departemen Agama----saat ini kemenag Kabupaten Barito Selatan Kalsel pada tahun 1990. Keinginannya untuk lebih dekat dengan keluarga besarnya di Majenang, Cilacap mendorong beliau mengajukan mutasi ke Kandepag/Kemenag Cilacap pada tahun 1994. Selama di Cilacap sempat menjadi pejabat struktural. Selanjutnya pada tahun 2000 kembali pindah tugas menjadi Kepala TU MTs Negeri Majenang. Pada awal 2005 beralih dari struktural menjadi fungsional dengan menjadi guru fiqih di MTs Negeri Majenang sampai sekarang.

Ayah dari Fadli Azizi Fikri, Abdusani dan Isbatul Hanail ini telah cukup banyak merasakan hiruk pikuk dunia pendidikan pada masa orde baru sampai era reformasi sekarang ini. Saat di Kandepag Cilacap cukup lama menangani pendidikan karena bertugas di seksi mapenda---saat ini berubah menjadi penma. Cukup sering  mantan pejabat di Kandepag Cilacap ini mengikuti seminar, study banding, workshop, pelatihan, dan mendampingi  lomba-lomba mapenda Cilacap.

Motto hidupnya untuk menjadi orang yang bermanfaat dan berkah bagi sesama dijewantahkan beliau dengan aktif di tengah masyarakat. Sejak 1987 sampai 1990 tercatat sebagai sekretaris NU Kecamatan Cimanggu.  Pada 2003 sampai 2012 mengabdikan diri di Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif  Kecamatan Cimanggu pada bidang pendidikan. Kepeduliannya terhadap dunia pendidikan di lingkungan sekitarya ia wujudkan  dengan merintis pendirian sekolah dan pada 2001 sampai 2007 menjadi Kepala MI Ma’arif Cimanggu, kemudian tahun  2007 sampai 2013 menjadi Kepala SMP Ma’arif Cimanggu. Selanjutnya sejak 2013 sampai sekarang menjadi Ketua Penasehat RA, MI dan SMP.

Pak Sukur memiliki hobi membaca. Ia kerap membaca buku, majalah, dan  surat kabar. Tekadnya ingin menjadi orang yang ilmunya bermanfaat, ilmunya dapat diamalkan   dan senang menerima ilmu. Bahkan di usinya yang diambang senja tetap mau belajar teknologi terkini seperti laptop, internet dan perangkat teknologi lainnya.

Ia berpandangan pola pendidikan di madrasah perlu terus ditingkatkan dan dipertajam melalui jalur pengembangan diri siswa baik individu maupun kelompok dan  kegiatan ekstrakurikuler seperti pramuka, kesenian, olahraga yang lebih maksimal karena akan ikut membentuk karakter siswa. Menurutnya untuk meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan para guru harus selalu disupport, diawasi, dinilai, dilihat dan kesejahteraannya diperhatikan baik oleh pemerintah maupun sekolah/madrasah. Para guru perlu sering diberi kesempatan mengikuti diklat untuk meningkatkan kualitas dan kompetensinya. Pengalamannya saat masih di birokrasi mengikuti diklat berkualitas diyakini akan melecut setiap guru untuk lebih baik kalau mendapat kesempatan tersebut.

Ada hal menarik yang beliau ungkapkan untuk para guru muda. “Saya enam tahun lagi akan purna sebagai pns. Saya berpesan kepada para guru muda  curahkan ilmu dengan rasa senang. Bimbing para siswa dengan penuh kasih sayang terutama siswa yang perlu perhatian ekstra atau kuper. Selain itu jangan lupa untuk mendoakan anak didik," ujarnya.

Okah Imtikhanah, Guru MTs yang Aktif

Okah Imtikhanah, guru matematika sekaligus wakil kamad kesiswaan itu  termasuk guru MTs yang paling aktif. Beliau memiliki komitmen tinggi untuk melaksanakan tugas kedinasan dengan baik dan profesional. Istri dari Bapak Tugino, S.Pd.----guru SMP Wanareja yang tinggal di Perumahan itu boleh jadi termasuk sosok langka. Dedikasinya yang luar biasa dalam mencurahkan tenaga, pikiran dan waktunya membuat rasa kagus dari kolegannya.

Ikah, demikian panggilan akrabnya lahir di Cilacap, 20 Nopember 1967. Anak kedua dari empat bersaudara yang pernah bercita-cita menjadi dokter tersebut tak kenal lelah. Hari-harinya tak lepas dari kesibukan satu ke kesibukan lainnya. Nyaris kesibukan itu tak pernah henti. Amanah yang dia emban sebagai waki kepala kesiswaan dan pengurus daerah Aisyiah Majenang mengharuskan dirinya untuk terus beraktivitas.

Bu Nurul, Sosok Wanita Karier plus Ibu Rumah Tangga

Oleh: Deni Kurniawan As'ari
Admin Weblog MTs Negeri Majenang dan Pembimbing Eskur Jurnalistik
 
Nurul Mukaromah
Namanya Nurul atau lengkapnya Nurul Mukaromah. Lahir di Cilacap, pada 26 Januari 1973. Staf pendidik yang mengampu mapel Bahasa Arab di MTs Negeri Majenang tersebut dalam beberapa bulan belakangan ini harus bolak-balik rumah-MTs. Mengapa? Ya, karena belum genap empat bulan belia melahirkan putrinya yang ketiga. Jadilah  harus meluangkan waktu menyusui sang buah hati tercinta. Untung rumahnya yang di Rawalo-Pahonjean tidak begitu jauh dari MTs—hanya berjarak sekira 2 KM. Sehingga cukup menggunakan sepedanya dalam saat pergi dan pulang dari rumah ke MTs.

Isteri dari Bapak Akhmad Saebani—-staf pengajar SMK Diponegoro Majenang dituntut mampu berperan ganda. Satu sisi sebagai wanita karier, dan sisi lain sebagai ibu rumah tangga. Tugas keduanya harus ditunaikan dengan bai. Berat tentu saja. Namun, seperti halnya sebuah ungkapan: hidup adalah pilihan dan konsekuensi. Jadi, seberat apa pun, Bu Nurul yang alumnus STAIN Purwokerto tak kenal menyerah. Dia tunaikan tugas sebagai guru dan sekaligus ibu rumah tangganya dengan penuh tanggung jawab. Hal ini karena konsekuensi atas pilihannya yang semenjak kecil bercita-cita menjadi guru.

Setiap pagi datang ke MTs menaiki sepeda untuk menunaikan tugas mengajar. Kemudian saat istirahat tiba atau jam kosong beliau sempatkan pulang dulu ke rumah untuk menyusui sang buah hati. Selepas pulang sekolah wanita paruh baya itu berjibaku dengan tugas di rumah seperti ibu pada umumnya. Tidak ketinggalan beliau berbagi cerita, bermain dengan anak-anak, dan malam harinya mengajari anak mengaji. 

Paginya selepas bangun tidur kembali bersibuk ria untuk memasak. Rupanya Bu Nurul punya prinsip bahwa suami dan anak-anaknya harus sarapan hasil masakannya sendiri. Yang menarik, beliau sendiri seringnya tidak sempat sarapan di rumah. “Kalau saya cukup sarapan di MTs saja, karena tidak kebagian waktu untuk sarapan pagi di rumah,” ujarnya.
Lantas apa yang ingin dicapai sosok ini dengan aktivitasnya yang padat itu? Apakah kebahagiaan, kepuasan, eksistensi, aktualisasi diri atau apa? Beliau pun berkata, “Saya niati semua kegiatan atau pekerjaan dilakukan dalam rangka ibadah. Insya Allah, selama ini saya menjalaninya dengan nyaman, enjoy dan tanpa merasa terbebani.”
Ya ya, ibadah. Ternyata motivasi itulah yang melandasi anak keempat dari 8 bersaudara itu untuk melakukan berbagai aktivitas yang berat dan seolah tak pernah henti. Motivasi ini sungguh luar biasa. Karena akan membuat seseorang melakukan aktivitas dengan penuh rasa tanggung jawab dan sekaligus enjoy. Seberat apa pun jikalau niatnya telah lurus, maka yang berat itu bisa terasa ringan bahkan sangat ringan.

Bu Nurul yang hobinya membaca telah dikaruniai 3 anak. Azka (12 tahun), Zaki (6 tahun) dan terakhir Zahroh (4 bulan). Ketiga putra/i-nya diberi perhatian dan kasih sayang yang penuh. Tidak lupa berupaya untuk memberikan pendidikan yang memadai dengan memasukkan ke sekolah yang dinilai paling baik. Di samping itu semua anaknya akan dipersiapkan untuk mengikuti pendidikan yang optimal di masa depan. Bahkan dapat mengenyam kuliah di perguruan tinggi terbaik.


Tugas Berat, Namun Berlimpah Pahala
Pembimbing Juara 1 MTQ
Saat melahirkan, wanita karier dihadapkan pada tugas yang berat. Aktivitas kerja yang harus ditunaikan dan kewajiban menyusui sang bayi menjadi rutinitas yang tidak ringan. Banyak wanita yang pada akhirnya menyerah dan lebih memilih menjadi ibu rumah tangga saja saat melahirkan.

Namun, sebagian lain—termasuk Bu Nurul tetap komitmen untuk melaksanakan tugas ganda tersebut. Kuncinya apa? Niat yang lurus disertai Ketangguhan dan keikhlasan untuk menjalaninya. Mau tidak mau saat bekerja sebenarnya hati dan pikiran banyak tersita di rumah, teringat pada sang buah hati terlebih saat anak sakit. Disinilah kemampuan memenej diri dipertaruhkan. Bagi yang tidak kuat dapat menjadi beban tersendiri yang dirasa berat.

Memang, para ibu—-termasuk Bu Nurul, kalau berhasil menunaikan peran ganda dengan baik akan mendapat reward yang besar. Mereka selain mendapat penghasilan juga kepuasan dan kebanggaan diri. Di samping itu akan lebih disayangi suaminya karena bisa membantu menopang keuangan, terlebih di masa krisis ekonomi seperti saat ini. Begitu pun mendapat pahala berlipat karena ikut menyebarluaskan ilmu kepada anak didik.

Melly Kiong dalam bukunya Siapa Bilang Ibu Bekerja Tidak Bisa Mendidik Anak dengan Baik (2009:9) menyatakan: “Tidak bisa dimungkiri, masalah ekonomi mendapat posisi pertama sebagai sumber masalah terbesar dalam kehidupan rumah tangga. Karena itu, kalau seorang ibu rumah tangga ikut andil dalam ekonomi keluarga, dia memiliki kesetaraan posisi dan peran sehingga dimungkinkan dia lebih dihargai suami.”

Pernyataan ini nampaknya dirasakan betul oleh Bu Nurul Mukaromah. “Saya merasa bahagia ketika mampu menunaikan pekerjaan sekaligus dapat ngopeni (merawat) anak dengan baik. Bangga rasanya bila semua pekerjaan terselesaikan dengan baik. Bahkan ada kebahagian tersendiri yang tidak dapat dilukiskan ketika mau pulang untuk menyusui sang buah hati. rasanya seneng banget,” ungkap wanita yang pernah sekolah di MTs dan Majenang tersebut. “Adapun sedihnya kalau saya bangun kesiangan karena pekerjaan rumah terutama memasak menjadi terganggu,” paparnya.

Saat ini pun, Bu Nurul  menjadi 'orang tua' bagi para adiknya. Semenjak ayah dan ibunya meninggal, maka praktis yang menggantikan peran orang tua bagi adiknya  adalah beliau. Tugas yang tentu tidak ringan. Namun, wanita paruh baya yang pintar Bahasa Arab tersebut sudah bertekad ingin menjadi orang yang bermanfaat, khusus bagi keluarga dan umumnya masyarakat. "Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya." demikian salah satu motto hidupnya.

Hidup adalah pilihan dan konsekuensi. Ketika Bu Nurul telah mantap memilih menjadi wanita karier sekaligus ibu rumah tangga,  maka seberat apa pun berbagai tugas dan kewajibannya ditunaikan  dengan penuh semangat dan enjoy. Demi masa depan yang lebih baik.
“Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (At-Taubah [9]: 105)

Jaelani : Bahasa Arab Perlu Pembiasaan dan Sering Dipraktekkan

Jaelani, S.Ag.
Admin Weblog-Pak Jae. Demikian panggilan akrab dari guru Bahasa Arab MTs Negeri Majenang itu. Pria kelahiran Cilacap, 11 Mei 1975 tersebut, pada enam bulan lalu berhasil menorehkan prestasi membanggakan. Dia telah menghantarkan siswanya---Nur Hafidzin meraih Juara 1 Lomba Pidato Bahasa Arab Tingkat Jawa Tengah pada acara Porseni MTs 2011.

Alumnus STAIN Purwokerto, yang setiap hari harus ngelaju mengendarai roda dua dari rumah ke MTs sepanjang 30 KM itu tetap enjoy melaksanakan tugasnya. Tidak pernah terdengar dia mengeluh. Bahkan semangat mengajarnya tetap prima, di tengah rasa capek yang menggelayutinya. Saat ini Pak Jae bertempat tinggal di Karang Anyar, Tayem Timur, Karang Pucung Cilacap. Sedangkan MTs Negeri Majenang, di mana dia mengabdikan dirinya berada di Pahonjean Majenang. Tak pelak, butuh dua jam untuk pulang pergi dari rumah menuju MTs.

Jaelani, yang pehoby membaca dan olahraga itu merupakan sosok guru aktivis. Ketika banyak guru lain sepulang mengajar menggunakan waktunya untuk kegiatan pribadi atau keluarga, dia lebih banyak menghabiskan waktu untuk terlibat di masyarakat. Mengajar anak-anak di TPQ Nurul Huda Karang Anyar selepas pulang sekolah menjadi pilihannya. Selain itu, suami dari Yuliati itu juga aktif di organisasi keagamaan menjadi Ketua Ranting Nahdlatul Ulama (NU)  Tayem Timur periode 2011-sekarang. Pengurus ANSOR Anak Cabang Tayem Timur tahun 2011-sekarang dan semasa menjadi mahasiswa terlibat aktif dalam kepengurusan IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) Ranting Tayem Timur.

Bahasa Arab merupakan mata pelajaran yang diampunya. Tidak heran, Pak Jae begitu menguasai bahasa Al Qur’an tersebut. Beliau memiliki sebuah keyakinan ketika ingin menguasai bahasa Arab maka kuncinya pembiasaan.

“Karena bahasa adalah lisan, maka perlu pembiasaan dan sering dipraktekkan,” ujarnya.

Menurutnya kalau bahasa Arab telah dipraktekkan maka akan merasakan indahnya berbahasa Arab. “Saat ini siswa belajar bahasa Arab seperti belajar mengaji. Artinya kalau mereka tidak dipaksa,  maka akan susah untuk belajar. Saya kadang prihatin karena pelajaran bahasa Arab masih kurang diminati siswa,” tandasnya.

Menjadi Pembimbing Siswa
Jaelani bersama Nur Hafidzin
Kesuksesan dirinya membimbing Nur Hafidzin meraih Juara 1 tingkat Provinsi Jawa Tengah tidak diraih dengan mudah. Hampir setiap hari harus menemani Nur Hafidzin berlatih bahkan sampai larut malam. 

Beberapa strategi yang dia lakukan agar siswa yang dibimbingnya menembus juara yaitu berdo’a dan berikhtiar. Latihan dan terus latihan ketika ada kesempatan, menguji mental siswanya baik di depan guru maupun siswa lainnya. Dia berharap Bahasa Arab akan semakin diminati oleh para siswa MTs Negeri Majenang. Oleh karenanya perlu penyesuaian muatan kurikulum yang mengarah pada pencapaian kemampuan anak masa depan.

Muttasir : Jalani Tugas dengan Ikhlas dan Profesional

Drs. Muttasir
Guru merupakan sebuah profesi, karenanya kita harus menjalaninya dengan ikhlas, profesional dan dilandasi ibadah," demikian ungkap Bapak Drs. Muttasir, guru matematika MTs Negeri Majenang yang sekaligus Wakil Kepala Kurikulum. 

Ayah Dian Rahayu Kurniasih (Alm.) dan Dwi Putra Abdillah Kurniawan itu pria asli dari Majenang, yang lahir pada tanggal 5 Oktober 1965. Pendidikan Pak Tasir diawali dari TK Aisyiyah (1971), SD Muhammadiyah Pahonjean (1977), SMP Muhammadiyah Majenang (1981), SMA Muhammadiyah Majenang (1984) dan selanjutnya menempuh pendidikan di IAIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan mengambil jurusan Tadris Matematika. Kemudia sejak tahun 1993 resmi menjadi PNS dengan ditempatkan di MAN Cilacap kemudian pada 1 Oktober 1999 pindah ke MTs Negeri Majenang.

Suami dari Ibu Dra. Neny Laela Irmayanty ----guru Mts Negeri Majenang----   itu termasuk guru senior yang telah banyak merasakan asam garamnya dunia pendidikan. Selain mengajar mapel matematika, beliau mendapat amanah menjadi Wakil Kepala Kurikulum sejak tahun 2001 sampai sekarang. Tak heran, karena pengalamannya yang panjang itulah beliau berhasil mengantarkan siswa-siswinya kelas IX pada tahun ini meraih kelulusan 100 persen. Tentu, prestasi ini merupakan hasil kerja bersama  semua stake holder MTs Negeri Majenang dibawah kepemimpinan Bapak H. Moch. Makhrus, S.Pd., M.Pd. Namun, perannya sebagai orang yang menggawangi 'dapur kurikulum'  juga tak bisa diremehkan. Maka menjadi wajar, ketika saat rapat evaluasi akhir tahun pelajaran 2010-2011, Sabtu kemarin beliau mendapat hadiah dari Kepala Madrasah, Bapak H. Moch. Makhrus, S.Pd., M.Pd karena dinilai sukses sebagai waka kurikulum.    

Dalam kacamata beliau, MTs Negeri Majenang sebagai satu-satunya MTs Negeri yang berada di Majenang memiliki posisi  yang penting dan strategis di tengah masyarakat. "MTs Negeri Majenang sangat dinamis dan selalu berusaha untuk mengedepankan akhlakul karimah," ujarnya. Tak pelak sudah banyak alumni dari MTs Negeri Majenang yang telah sukses dan aktif berkiprah di tengah-tengah masyarakat. 

Tanamkan Kemandirian dan Kejujuran
Sosok yang jago bermain tenis meja ini berpesan kepada segenap guru agar berupaya untuk menanamkan kemandirian dan kejujuran kepada peserta didik. Hal ini penting, mengingat  salah satu fungsi pendidikan di tingkat dasar dan menengah adalah meletakkan nilai-nilai yang akan menjadi pedoman para siswa ketika telah terjun di masyarakat.

"Bila semua guru menjalani kewajibannya secara profesional, qona'ah, dan dilandasi rasa syukur maka tingkatan sejahtera tergantung pada diri sendiri" demikian pandangan Pengurus Dikdasmen PCM Muhammadiyah Majenang ini ketika ditanya seputar kesejahteraan guru saat ini.

Info MTs