Select Menu

Prestasi

Karya Siswa

Profil Siswa

Karya Guru

Profil Guru

Info Pendidikan

Pendapat Mereka Tentang HUT RI

Oleh Admin Weblog MTs N Majenang
Assalamu a'laikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Dalam rangka memeringati HUT RI ke-68 tahun 2013, pengelola weblog MTsN Majenang mengajukan pertanyaan tentang makna HUT RI.

"Sejumlah pendapat yang terhimpun semoga menjadi bahan renungan kita dalam rangka memaknai momentum HUT Kemerdekaan RI yang ke-68 ini."

Kami sampaikan ucapan terima kasih yang tulus dan penghargaan yang tinggi kepada bapak/ibu/saudara yang berkenan memberikan pendapatnya. Demikian dan terima kasih.

Imamoto, S.Pd.------Guru Bahasa Indonesia, Kapus MTs Negeri Majenang

"HUT RI merupakan momentum historis sebagai tonggak penanaman nilai-nilai patriotik kepada generasi muda." 
Solihun, S.Pd., M.Si.----- Guru IPS MTs Negeri Majenang, Kepala MI Sabilunnajah, Pahonjean

"Merdeka!!! Mari kita isi kemerdekaan dengan perjuangan tiada henti. Merdeka!!!"
Darul Rahmadi, S.Pd.----- Guru Matematika MTs Negeri Majenang

"Tetap semangat untuk memajukan bangsa dan Negara yang bermartabat. Mari jalin kebersamaan dan sikapi dengan bijak segala perbedaan."
Eny Suprihatiningsih, S.Pd.-----Guru IPA MTs Negeri Majenang

"HUT RI sebagai pengingat untuk tetap waspada terhadap penjajahan yang tidak terasa."
Tri Mulyanto, S.Pd. -----Guru Bahasa Indonesia MTs Negeri Majenang

"Ajang introsfeksi diri untuk mengevaluasi sejauhmana kita telah mengisi kemerdekaan yang telah diwariskan para pejuang. Mari kita lanjutkan perjuangan mereka dengan dengan memajukan bangsa dan negara sesuai kemampuan kita masing-masing."
Ahmad Subechi-----Ketua OSIS MTs Negeri Majenang 2012-2013

"Tunjukkan sikap patriotisme kita kepada NKRI dalam HUT RI ke-68 ini. Semoga bangsa Indonesia menjadi bangsa yang bermoral dan menjadi contoh bagi negara lain. Merdeka!!! Merdeka!!! Merdeka!!!"
Jaelani, S.Ag.------Guru Bahasa Arab MTs Negeri Majenang, Pengurus NU Ranting Tayem

"Orang yang bijak dan arif adalah orang yang mau dan siap untuk mentauladani para penjuang dan melanjutkan perjuangan mereka lewat pendidikan, agama dan bidang umum lainnya."

Harapan Siswa pada Momentum Hardiknas 2012

Assalamu a'laikum Warahmatullahi Wabarakatuh

 
Admin-Esok, tanggal 2 Mei 2012 akan diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Rutinitas peringatan pun sering digelar setiap tahun. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bahkan telah menetapkan  tema “Bangkitnya Generasi Emas Indonesia” dalam peringatan hardiknas tahun 2012.

Lantas bagaimana harapan anak bangsa dalam hal ini siswa/i MTs Negeri Majenang terkait dengan peringatan hardiknas tahun ini. Berikut cuplikan harapan dari mereka. Semoga Pak Mendikbud sempat membaca harapan para siswa/i ini.



Peni Sari 
Siswi Kelas VII A, Wakil Bendahara Redaksi Bulletin IQRO dan Pengurus OSIS MTs Negeri Majenang)

"Harapan saya adalah kualitas pendidikan di Indonesia tambah maju. Biaya pendidikannya pun jangan terlalu  mahal karena kasihan banyak anak yang tidak mampu akhirnya tidak bisa bersekolah. Jangan membedakan yang kaya dan miskin untuk mengenyam pendidikan. Sekolah-sekolah yang tidak layak harus direnovasi. Pemerintah harus lebih memperhatikan keadaan sekolah di Indonesia. Dan untuk pelajar dari sabang sampai Merauke jadikanlah pendidikan untuk modal masa depan dan janganlah memandang remeh pendidikan. Pendidikan Indonesia harus merata ke seluruh pelosok nusantara dan ke depan harus lebih baik daripada sekarang. Khusus untuk tenaga pendidik di Indonesia  harus ditingkatkan lagi kualitasnya agar pendidikan semakin maju." 
Dasimin
Siswi Kelas VII F, Wakil Ketua OSIS MTs Negeri Majenang

"Semoga pemerintah lebih bijaksana dalam menentukan pembiayaan pendidikan. Mengapa? Karena masih banyak anak-anak Indonesia yang belum menikmati kesempatan sekolah karena terbatasnya biaya. Pemerintah selayaknya betul-betul memperhatikan dan membenahi kualitas guru karena sampai saat ini banyak guru yang tidak kompeten dan bahkan beberapa kasus di media televisi diberitakan bahwa masih ada oknum guru yang menganiaya siswanya sendiri. Semoga pendidikan di Indonesia semakin maju sampai tingkat internasional."
Fiki Zunaeroh
Juara 1 Kelas VII E, Aktif di Eskur Jurnalistik MTs Negeri Majenang

"Dengan momentum hardiknas ini semoga pendiidkan di Indonesia lebih maju. Saat ini di daerah pedalaman kualitas pendidikan masih rendah. Saya harap pemerintah betul-betul memperhatikan daerah luar Jawa yang masih terisolir. Para guru saya harap lebih jreatif dalam mengajar siswa-siswinya terutama para guru yang ada di pedalaman.Semoga program pemerintah tentang wajib belajar 9 tahun dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya terutama anak miskin dan pemulung.
Kita perlu meneladani tokoh pendidikan ki Hajar Dewantara yang telah berjuang untuk mengembangkan dunia pendidikan Indonesia. Ayo pemerintah terus tingkatkan mutu dan kualitas pendidikan Indonesia agar Indonesia menjadi negara yang maju dan sukses.”
Iis Meinarwati
Juara 1 Kelas VII C, Wapimred Eskur Jurnalistik MTs Negeri Majenang

“Harapannya pendidikan di Indonesia lebih maju dan berkualitas. Terutama di daerah pedalaman yang pendidikannya masih sangat tertinggal. Pemerintah seharusnya lebih memperhatikan karena anak-anak pedalaman juga sebagai penerus bangsa.
Para guru di Indonesia harus lebih bersemangat dalam mendidik muridnya. pemerintah pun perlu lebih maksimal dalam memperhatikan para guru sehingga mereka dapat menunaikan tugasnya dengan baik untuk mengajari siswa membaca, menulis dan berhitung.”

Menyembelih Keserakahan

Oleh Prof Dr Nasaruddin Umar  (Wakil Menteri Agama RI)

St Augustine (354-430) mengidentifikasi tiga jenis keserakahan manusia, yaitu keserakahan kekuasaan, seksual, dan harta benda. Keserakahan yang terakhir menjadi cikal bakal lahir dan berkembangnya sistem kapitalisme. Sebelum kapitalisme lahir, keserakahan manusia terhadap harta benda merupakan perbuatan yang tidak terpuji. Bahasa agama dan bahasa filsafat sampai abad pertengahan masih memandang kapitalisme itu sebagai dosa dan aib yang harus dijauhi.

Milik pribadi di masa lampau bukan sekadar sumber pendapatan, tetapi memiliki fungsi sosial dan penggunaannya selalu dibatasi oleh kepentingan-kepentingan sosial dan keperluan negara. Karena itu, menurut sejarahwan RH Tawney, sampai abad pertengahan konsep kepemilikan pribadi atas harta tidak begitu populer. Sampai sekarang, di sejumlah etnik dalam sejumlah wilayah kepulauan nusantara kita masih kental dengan istilah kepemilikan kolektif, seperti hak-hak adat, tanah ulayat, tanah adat, tanah wakaf, dan sebagainya.

Keserakahan terhadap harta benda sesudah abad pertengahan seakan mendapatkan legitimasi logika dan agama. Nilai-nilai luhur agama pun direaktualisasikan untuk mendukung konsep kapitalisme sehingga kapitalisme yang dulu dianggap aib kini semakin eksis di dalam opini publik. Lahirnya karya monumental Max Weber, The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism dianggap memberikan pupuk yang menyuburkan faham kapitalisme. Namun, sasaran positif yang dituju buku ini ialah memberikan semangat pembebasan manusia dari belenggu mistisisme dan khurafat yang menyelimuti umat beragama saat itu. Weber tidak ingin agama dijadikan dasar untuk meligitimasi keterbelakangan, kemelaratan, dan kepasrahan terhadap nasib.

Meskipun buku ini ditentang kaum konservatif dan disebut sebagai the unplanned and uncoordinated mass action, tetapi gagasannya tetap tak terbendung. Ekonomi pasar bebas yang lahir dari cara pandang kapitalisme dianggap pengkritiknya sebagai pembunuh berdarah dingin. Tak terhitung jumlah kematian akibat kelaparan yang ditimbulkan oleh sistem ini.

Ekonomi pasar bebas yang lahir dari cara pandang kapitalisme dianggap sebagai pembunuh berdarah dingin. Tak terhitung jumlah kematian akibat kelaparan yang ditimbulkan oleh sistem ini. Ada yang menyejajarka ekonomi pasar bebas dengan paham radikalisme yang melahirkan teroris. Para teroris memang kejam membunuh orang tak berdosa, tetapi jumlah korbannya kongkret dan terukur. Ekonomi pasar bebas korbannya lebih massif dan tak terukur. Energi lebih kuat di balik fenomena pasar bebas ialah semangat untuk memiliki, menguasai, dan memonopoli. Ujung dari pasar bebas tidak lain adalah keserakahan.

Ironisnya, sistem kapitalisme seakan menjadi motor paling kuat di dalam menjalankan roda pembangunan di berbagai negara, termasuk di negeri kita selama beberapa dasawarsa terakhir. Seolah-olah, pemerintah tak berdaya menghindar dari jaringan sistem ini. Akibatnya, perubahan nilai-nilai sosial ekonomi di dalam masyarakat kita semakin cepat dan jauh meninggalkan tradisi luhur dan kearifan lokal kita. Tentu kita tidak tepat meratapi sebuah hasil pemikiran, tetapi selalu ada peluang untuk melakukan revisi dan perbaikan dari padanya. Apa, bagaimana, dan dari mana kita memulainya, menjadi pekerjaan rumah penting bagi semua para ekonom, politikus, dan agamawan.

Idul Qurban yang berlangsung setiap tahun dapat dijadikan momentum untuk mengevaluasi strategi dasar pemikiran yang membuat manusia sengsara dan menjadi korban. Peristiwa yang diperingati pada setiap Hari Raya Idul Qurban (Idul Adha) sesungguhnya merupakan peristiwa simbolis, yaitu pernyataan kesediaan untuk mengorbankan sesuatu yang paling kita cintai demi tujuan yang lebih mulia.

Orang yang disembelih (Ishaq menurut Yahudi dan Ismail menurut Islam) adalah lambang terhadap sesuatu yang amat kita cintai. Sekian lama Ibrahim/Abraham merindukan anak keturunan, akhirnya di usia senjanya dapat dikarunia anak yang betul-betul saleh. Namun, ia diuji Tuhan agar anak itu disembelih dan Ibrahim bersama keluarganya dinilai lulus dari ujian itu, lalu anaknya diganti dengan seekor kambing. Kambing inilah yang disembelih lalu dagingnya dibagikan kepada kaum fakir miskin.

Jika lambang kecintaan Ibrahim adalah Islamil, anaknya, maka tentu orang lain memiliki lambang kecintaannya masing-masing. Boleh jadi "Ismail-Ismail" orang mengambil bentuk berupa rumah atau kendaraan mewah, deposito atau surat-surat berharga, emas perhiasan, dan properti lainnya. Pertanyaannya, sanggupkah kita mengorbangkan semua itu demi suatu tujuan mulia. Secara inplisit, peristiwa Idul Qurban mempunyai pesan kesediaan untuk menyembelih keserakahan, dengan kata lain dari mengendalikan diri. Tidak banyak artinya memperingati Hari Raya Idul Qurban, sekalipun menyembelih beberapa ekor sapi, tetapi tetap tidak mampu menyembelih nafsu keserakahannya. Apakah itu keserakahan harta benda, seksual, maupun politik.

Semangat Idul Qurban adalah semangat mengendalikan diri untuk tidak memperkaya diri sendiri di tengah kemelaratan orang lain, semangat untuk mengendalikan nafsu birahi kepada orang yang tidak berhak di tengah keceriaan anggota keluarga, semangat untuk membatasi kesewenang-wenangan dari otoritas dan kekuasaan yang dimiliki. Semangat untuk tidak mendemonstrasikan kemewahan di atas keprihatinan orang lain dan semangat untuk tidak membangun istana di atas puing-puing kehancuran orang lain.

Semangat Idul Qurban ialah semangat untuk memupuk rasa kebersamaan sebagai warga bangsa tanpa membedakan jenis kelamin, etnik, agama, dan kepercayaan. Semangat untuk mengulurkan tangan terhadap kaum duafa dan mustadh'afin. Semangat untuk menyembelih egoisme dan individualisme kita. Semangat untuk memberantas KKN dan ketidakadilan. Tegasnya semangat untuk menyembelih kerakusan dan keserakahan.

Allah SWT sejak awal menyerukan perlunya memuliakan manusia tanpa membedakan etnik, agama, dan kewarganegaraannya, "Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan." (QS al-Isra' [17]: 70).

Hadis Nabi juga secara gamblang mengatakan bahwa sebaik-baik manusia ialah yang paling banyak bermanfaat di dalam masyarakat. Harapan kemanusiaan yang dapat diperoleh dari peringatan Hari Raya Idul Qurban ialah semangat untuk berbagi dengan orang lain. Hewan yang disembelih dibagi-bagikan secara gratis kepada anggota masyarakat sehingga kalau pada Idul Fitri semangatnya membebaskan manusia dari kebutuhan karbohidrat, makanan pokok, tetapi pada suasana Hari Raya Idul Qurban mengandung semangat untuk membebaskan manusia dari kebutuhan protein. Kebutuhan karbohidrat dan protein dapat dipenuhi di dalam suasana kedua hari raya Islam.

Sumber: Republika

Info MTs