Select Menu

Prestasi

Karya Siswa

Profil Siswa

Karya Guru

Profil Guru

Info Pendidikan

Puisi Kehilangan Karya Guru

Puisi berjudul "Kehilangan" ini buah karya dari Emilia, S.Pd., seorang  guru Bahasa Indonesia MTs Negeri Majenang. Beliau alumnus Universitas Galuh, Ciamis. Saat ini berdomisili di Karangpucung. Beliau mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas 7 dan 8. Puisi tersebut  menceritakan seorang ibu yang kehilangan buah hatinya. Sang ibu merasakan kesedihan yang begitu dalam.


 Kehilangan

Jemari mungil nan lentik tak bernoda dan berdosa
pupus dihempas tirani dunia
Induk yang kehilangan sangkar emasnya
terjerat kehampaan semu yang nyata
Lenterapun terdiam duduk manis menanti empunya

Jiwa tak berpenghuni terlelap dalam buaian rindu
Melati putih mongering di atas pusarannya
Namanya terukir indah dalam nisan kokoh

Amboi … begitu  pahitnya
Angin berlarian menembus batas cakrawala
Daun-daun kering  gugur tak tentu arah langkahnya
Kesunyian menyelimuti malam tak berbintang
Mendekap gerimis yang tak kunjung hilang

***

Pentingnya Reward untuk Anak Didik

Oleh : Yuni Rahmawati, S.Pd.
Guru Bahasa Inggris MTs Negeri Majenang, Tinggal di Kota Banjar
Reward adalah segala sesuatu yang berupa penghargaan yang menyenangkan perasaan yang diberikan kepada siswa karena hasil baik dalam proses pendidikannya dengan tujuan agar senantiasa melakukan pekerjaan yang baik dan terpuji (Anjar Ginanjar : 2013).  Reward merupakan sebuah kata yang sangat sederhana sekali, namun begitu besar artinya jika kita berikan pada anak didik.

Dalam agama Islam juga mengenal metode reward, hal ini terbukti dengan adanya pahala. Pahala adalah bentuk penghargaan yang diberikan Allah SWT kepada umat manusia yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh, misalnya: shalat, puasa, membaca Al-quran, dan perbuatan baik lainnya.

Dalam Al-quran dijelaskan bahwa kita dianjurkan untuk berbuat kebaikan. Seperti terdapat dalam Q.S. Al-baqarah ayat  261 yang artinya: Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji.  Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Al-baqarah: 261).

Peranan reward dalam proses pengajaran cukup penting terutama sebagai faktor eksternal dalam mempengaruhi dan mengarahkan perilaku siswa. Hal ini berdasarkan atas berbagai pertimbangan logis, diantaranya reward dapat menimbulkan motivasi belajar siswa dan dapat mempengaruhi perilaku positif dalam kehidupan siswa.

Kita sebagai pendidik, seringkali lupa untuk memberikan penghargaan kepada anak didik yang di kelasnya pandai, aktif, atau memang sudah pintar sebelumnya. Kita merasa bahwa anak itu memang sudah pintar, jika diberi reward juga sudah hal biasa. Padahal satu bentuk reward berupa tepukan tangan yang sangat sepele saja, jika diberikan pada sisiwa-siswa kita, hal itu bisa menjadi suatu motivasi yang sangat luar biasa. Kepada anak pintar saja, kita sering lupa memberi reward apalagi kepada anak- anak kita yang malas, tidak aktif, dan sering membuat masalah di kelasnya. Terkadang anak tersebut malahan sering kita marahi, cuekin, menunjukan rasa tidak suka, terlebih lagi menghinanya. Padahal anak-anak tersebut yang lebih membutuhkan reward. Mungkin dibalik itu semua, ada sisi kelebihannya yang kita belum tahu. 

Kita merasa sering berat sekali mengucapkan kata-kata pujian pada mereka, dengan kata lain kita itu pelit dalam mengucapkannya, sehingga bukan perubahan sikap yang mereka lakukan, tetapi anak didik kita semakin tidak merasa percaya diri, malas, dan akhirnya mereka tidak mau sekolah karena sikap kita sebagai guru/pendidik yang kurang baik kepada siswa.

Betapa kita harus menyadari bahwa reward yang paling sederhana sekalipun dapat merubah dunia anak didik kita menjadi lebih baik dan menjadi siswa yang bersemangat untuk menggapai cita-citanya.

Hubungannya dengan mapel bahasa Inggris, karena penulis sebagai guru bahasa Inggris, ada suatu pengalaman di mana sebagian siswa kesulitan atau mendapatkan masalah dalam pelajaran bahasa Inggris. Mereka berpikir bahasa Inggris adalah bahasa asing,  susah sekali untuk dipelajari, sehingga muncul kata-kata tidak suka pada pelajaran tersebut. Ditambah lagi dengan sikap guru yang tidak ramah dan selalu merasa lebih pintar dari murid-muridnya, membuat mereka tidak kerasan di kelas jika di ajar bahasa Inggris. Lalu saya berpikir bagaimana caranya agar anak-anak suka, karena kemauan belajar itu diawali dengan rasa suka entah itu suka pada pelajaranya atau kepada guru yang mengajarnya. 

Pengalaman ini terjadi di kelas IX,  di mana anak sedang berat-beratnya menyesuaikan diri untuk berjuang bisa lulus dari sekolah dan ingin suasana belajarnya nyaman. Suatu hari setelah berjalan beberapa lama, para siswa mulai mengeluh jika diajar mapel bahasa Inggris, muncul pikiran mungkin saya sebagai pengajar jarang memberikan sesuatu yang menyenangkan hati mereka. Ternyata kuncinya adalah pada reward itu sendiri. Para siswa ingin sesuatu yang mereka lakukan bisa dihargai walaupun dengan kata-kata pujian. 

Suatu hari saya memberikan tugas menghafal kosa kata, dan ada beberapa siswa yang kemampuannya di bawah standar dan bisa di katakan siswa yang malas di kelasnya, dia maju dan berusaha untuk menghafal beberapa kata walau tidak semua, kemudian saya keluarkan kata-kata “hebat, tepuk tangan...i love you”.Ternyata kekuatan kata-kata itu begitu dahsyat, keesokan harinya anak itu terlihat lebih rajin dan bersemangat di kelasnya, dan dia mengatakan kepada saya, ”Gitu dong bu...”. 

Saya langsung merasa bahwa sebagai pengajar tidak seharusnya kita selalu memarahi siswa, tapi perlihatkan sisi penghargaan kita dalam bentuk reward kepada mereka, walaupun yang mereka lakukan belum sempurna.

Bagaimanapun pendidikan jaman sekarang sudah berbeda dengan jaman dulu.  Kalau   dulu pendidik kadang berbuat semena-mena kepada siswanya, tapi jaman sekarang sudah berubah. Majunya teknologi dapat mempengaruhi daya pikir siswa baik yang negatif atau positif. Mereka dapat memperoleh informasi apapun dari teknologi itu sendiri. Mereka semakin bisa berpikir kritis, tahu mana yang boleh dan tidak boleh, sehingga mereka dapat berontak kapan pun jika kondisinya belum nyaman. 

Oleh karena itu, mendidik dengan kekerasan sudah tidak diperbolehkan tapi dengan cara-cara yang lebih halus, salah satunya dengan reward itu sendiri.  Kita sebagai pendidik harus lebih bijaksana, sehingga siswa-siswa kita dapat belajar dengan rasa senang menimba ilmu untuk masa depan mereka yang cerah.

Begitulah kiranya, betapa besarnya pengaruh reward pada kehidupan anak didik kita. Marilah kita para pendidik untuk tidak ragu-ragu dan tidak bosan-bosannya memberikan penghargaan pada mereka. Sehingga mereka akan merasa nyaman mencari ilmu dan tidak menganggap guru adalah sosok yang menakutkan tapi sebagai sosok yang bijaksana dan penuh rasa mengasihi.
***

Jalan Sehat di Tengah Gerimis Hujan

Sekira dua ribu orang mengikuti Jalan Sehat Umat Beragama dalam rangka Hari Amal Bakti Kemenag ke-68, Sabtu (21/12) kemarin. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Kabupaten Cilacap itu berlangsung dalam cuaca mendung disertai gerimis hujan. Para peserta terdiri dari pegawai di Kementerian Agama se-Cilacap dan masyarakat umum. Turut hadir, Kepala Kemenag Kabupaten Cilacap, KH. Drs. Mughni Labib, M.Si., Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Cilacap, H.A. Muslikhin, S.H. M.Si., Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Cilacap, Moh. Taufiq Hidayatullah, S.Ag., dan tidak ketinggalan Kepala MTsN Majenang, K.H. Moch. Makhrus, S.Pd., M.Pd.

Menurut penuturan panitia, peserta yang terdaftar sebenarnya mencapai lima ribu lebih dengan melihat jumlah kupon doorprize yang tersebar. Namun, karena hujan turun sejak pagi maka kebanyakan peserta urung mengikuti acara tahunan tersebut. Sepanjang perjalanan peserta harus rela kehujanan. Sebagian peserta memakai payung dan sebagian lainnya menggunakan jas hujan. Bahkan sebagian lain membatalkan mengikuti jalan sehat dan hanya duduk-duduk di tempat yang teduh.

Rombongan dari MTs Negeri Majenang sebanyak 36 orang yang terdiri dari guru dan karyawan berangkat dengan naik bus Argo Mulyo pukul 05.30 WIB dan baru sampai Cilacap pukul 08.00 WIB. Selanjutnya mereka bergabung dengan peserta lain untuk mengikuti jalan sehat dengan diiringi gerimis hujan. Sebagian guru sempat berkelakar bahwa acara kali ini lebih pasnya  bukan jalan sehat tapi jalan sakit karena para peserta nekad hujan-hujanan. Sebagian lain berujar sesekali jalan bersama sambil hujan-hujanan lebih asyik.

Hadiah Sepeda Motor
Sebenarnya jalan sehat tahun ini menarik minat banyak calon peserta karena hadiah utamanya adalah sebuah sepeda motor. Namun, karena hujan akhirnya tidak semua bisa mengikuti. Hadiah lain pun telah disiapkan oleh panitia. Televisi, kulkas, sepeda, mesin cuci termasuk sebagian hadiah yang nampak kelihatan di panggung. 

Album Kegiatan Jalan Sehat


Dewi fortuna rupanya menghampiri salah satu guru MTs Negeri Majenang, Ibu Hj. Jamilatun Munawaroh, S.Pd.,  yang berhasil membawa pulang hadiah doorprize berupa sebuah sepeda lipat berwarna biru. Sepeda pun diangkut ke dalam bus setelah sebelumnya dilipat oleh Mas Kiswanto. Sedangkan yang berhasil mendapatkan sepeda motor yaitu anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Cilacap yang berasal dari Cilacap kota. ***

Peserta jalan sehat sebagian memakai payung dan menutup 
kepala dengan jaket agar tidak kehujanan
Salah satu peserta jalan sehat orang bule yang berkomunikasi 
dengan Bapak Yusuf Wibisono (Guru Bahasa Inggris)

Pendapat Mereka Tentang HUT RI

Oleh Admin Weblog MTs N Majenang
Assalamu a'laikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Dalam rangka memeringati HUT RI ke-68 tahun 2013, pengelola weblog MTsN Majenang mengajukan pertanyaan tentang makna HUT RI.

"Sejumlah pendapat yang terhimpun semoga menjadi bahan renungan kita dalam rangka memaknai momentum HUT Kemerdekaan RI yang ke-68 ini."

Kami sampaikan ucapan terima kasih yang tulus dan penghargaan yang tinggi kepada bapak/ibu/saudara yang berkenan memberikan pendapatnya. Demikian dan terima kasih.

Imamoto, S.Pd.------Guru Bahasa Indonesia, Kapus MTs Negeri Majenang

"HUT RI merupakan momentum historis sebagai tonggak penanaman nilai-nilai patriotik kepada generasi muda." 
Solihun, S.Pd., M.Si.----- Guru IPS MTs Negeri Majenang, Kepala MI Sabilunnajah, Pahonjean

"Merdeka!!! Mari kita isi kemerdekaan dengan perjuangan tiada henti. Merdeka!!!"
Darul Rahmadi, S.Pd.----- Guru Matematika MTs Negeri Majenang

"Tetap semangat untuk memajukan bangsa dan Negara yang bermartabat. Mari jalin kebersamaan dan sikapi dengan bijak segala perbedaan."
Eny Suprihatiningsih, S.Pd.-----Guru IPA MTs Negeri Majenang

"HUT RI sebagai pengingat untuk tetap waspada terhadap penjajahan yang tidak terasa."
Tri Mulyanto, S.Pd. -----Guru Bahasa Indonesia MTs Negeri Majenang

"Ajang introsfeksi diri untuk mengevaluasi sejauhmana kita telah mengisi kemerdekaan yang telah diwariskan para pejuang. Mari kita lanjutkan perjuangan mereka dengan dengan memajukan bangsa dan negara sesuai kemampuan kita masing-masing."
Ahmad Subechi-----Ketua OSIS MTs Negeri Majenang 2012-2013

"Tunjukkan sikap patriotisme kita kepada NKRI dalam HUT RI ke-68 ini. Semoga bangsa Indonesia menjadi bangsa yang bermoral dan menjadi contoh bagi negara lain. Merdeka!!! Merdeka!!! Merdeka!!!"
Jaelani, S.Ag.------Guru Bahasa Arab MTs Negeri Majenang, Pengurus NU Ranting Tayem

"Orang yang bijak dan arif adalah orang yang mau dan siap untuk mentauladani para penjuang dan melanjutkan perjuangan mereka lewat pendidikan, agama dan bidang umum lainnya."

Mengenal Lebih Dekat MTs Negeri Majenang

Oleh: Deni Kurniawan As'ari, S.Pd  
Admin Weblog MTs Negeri Majenang
 
MTs Negeri Majenang terus berbenah. Di tengah persaingan sekira 15 SMP/MTs negeri dan swasta yang berada di Kecamatan Majenang. Madrasah yang berdiri megah di tepi jalur jalan antarprovinsi yang menghubungkan Provinsi Jawa Tengah dengan Jawa Barat jalur Selatan itu terlihat anggun. Warna cat hijau muda yang dikelilingi pesawahan yang sedang menguning menambah nuansa beda. Aliran sungai yang terletak di depan madrasah semakin menambah kesan sejuk.  Masyarakat pedesaan di sekitar madrasah yang sebagian besar bermata pencahariaan petani semakin mengokohkan bahwa alam pedesaan begitu kental dan terasa. Tanahnya cukup subur dan cocok untuk lahan pertanian.
Letak yang strategis dan dukungan masyarakat setempat yang optimal itulah barangkali yang membuat madrasah ini semakin hari terus berkembang. Sarana dan prasarananya terus diupayakan untuk dilengkapi. Begitu pun SDM—guru dan karyawan mendapat perhatian penuh dari pimpinan untuk ditingkatkan profesionalitas dan kompetensinya.
Cikal Bakal
MTs ini pada mulanya berawal dari sebuah Pesantren yang bernama Darutsawab. Tidak lama kemudian berdirilah lembaga pendidikan formal yang bernama Madrasah Tsanawiyah Ma’arif Geblogan yang berada di Geblogan, Pahonjean. Pesantren itu dipimpin KH. Rosidin dan dibantu kedua putranya yang bernama Kyai Imam Bulqin dan Kyai Imam Thobroni.

Berdasarkan catatan sejarah, tahun 1971, nama ma’arif berubah menjadi DARWATA—-Darul Tarbiyah Watta’lim dan yang menjadi pimpinan yaitu Kyai Imam Thobroni. Konon, saat itu siswanya masih sedikit sekali karena memang tidak semua santri mau belajar di lembaga pendidikan formal. Namun seiring perjalan waktu, step by step siswa MTs Darwata semakin banyak, terutama seiring dengan kebutuhan akan ijazah yang sifatnya formal.

Sembilan tahun kemudian, tepatnya 1980, MTs Darwata Geblogan bermetamorfosis menjadi MTs Negeri Karanganyar Filial di Pahonjean dengan SK dari Dirjen Binbaga Islam Nomor : KEP/E-II/1980 tanggal 22 September 1980. Saat itu yang menjadi pimpinan Bapak Chujjirna BA. Siswanya terbilang lumayan menembus angka 500. Pada tahun 1982 Chujjirna BA. digantikan oleh Drs. Bunyamin. 

Selanjutnya pada 1991, Madrasah Tsanawiyah Negeri Karanganyar Filial di Pahonjean meningkat statusnya menjadi mandiri—-berubah menjadi Madrasah Tsanawiyah Negeri Majenang, Kabupaten Cilacap. Perubahan ini berdasarkan SK. Nomor : 137 Tahun 1991. Adapun Kepala pertamanya, Drs. H. Bunyamin kemudian berturut-turut digantikan oleh Drs. Khujirno, Hj. Ngadiyah B.A. dan Drs. Muslimin Winoto, M.Pd.I. Tercatat sampai tahun 2010 MTs Negeri Majenang telah mengalami 5 (lima) kali pergantian pucuk pimpinan. Semenjak Pebruari 2010, yang menjadi nakhodanya yaitu H. Moch. Makhrus, S.Pd., M.Pd. yang sebelumnya menjabat kamad MTs Negeri Karangpucung.

Makna Hari Pahlawan Menurut Guru dan Siswa

Oleh Admin Weblog MTs N Majenang
Assalamu a'laikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Dalam rangka memeringati Hari Pahlawan, 10 November 2011, pengelola weblog MTsN Majenang mengajukan pertanyaan tentang makna Hari Pahlawan.

"Sejumlah pendapat yang terhimpun semoga menjadi bahan renungan kita dalam rangka memaknai momentum hari pahlawan dan sekaligus mengisi hasil kemerdekaan yang telah diperjuangkan para pendahulu kita."

Kami sampaikan ucapan terima kasih yang tulus dan penghargaan yang tinggi kepada bapak/ibu/saudara yang berkenan memberikan pendapatnya. Demikian dan terima kasih.

Yusuf Wibisono, S.Pd (Guru Bahasa Inggris MTsN Majenang, Sekretaris Yayasan YAPIA Wanareja)

"Momentum hari pahlawan tahun ini, hendaknya sebagai generasi muda harus punya semangat yang tinggi untuk meneruskan cita-cita luhur para pahlawan pendahulu kita. " 
Hj. Nur Mardiyah, S.Pd (Guru PKn MTs Negeri Majenang, Ketua Muslimat NU Wanareja)

"Semangat kepahlawanan harus tetap dimiliki oleh seluruh WNI, dalam situasi perang maupun damai. Hal itu tidak bisa ditawar-tawar lagi jika kita masih ingin eksis dalam situasi pergaulan dunia yang semakin maju dan modern. Tapi harus diingat, kita harus tetap "Cekelan Waton", maju yang beradab dan berkarakter. Merdeka!!!"
Okah Imtikhanah, S.Pd (Guru Matematika, Wakil Kepala Kesiswaan MTs Negeri Majenang)

"Suritauladani pahlawan bangsa. Kita sebagai generasi penerus, harus membekali diri  dengan agama, ilmu dan budi pekerti yang terpuji dan selalu memohon petunjuk Allah SWT."
Atik Wigyati, S.Pd (Guru IPS MTs Negeri Majenang, Mantan Ketua Nasyiatul Aisyah Majenang)

"Saya sangat terkesan dengan kata-kata Bung Karno yang sangat terkenal : Bangsa yang besar adalah bangsa yang tak melupakan sejarahnya. JAS MERAH!!! Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Dengan semangat hari pahlawan kita lanjutkan perjuangan para pahlawan dengan selalu profesional dalam bidang dan kompetensinya masing-masing."
Tri Mulyanto, S.Pd (Guru Bahasa Indonesia MTs Negeri Majenang)

"Dengan hari pahlawan seyogyanya dapat kita jadikan sebagai ajang introsfeksi diri sejauhmana apa yang telah kita lakukan, kita perbuat terutama untuk bangsa, negara khususnya lingkungan sekitar kita. Sudahkanh kita melanjutkan dan mengisi alam kemerdekaan ini sesuai dengan apa yang diperjuangkan dan dicita-citakan oleh para pahlawan yang telah mendahului kita."
Misye Arbiyan (Ketua OSIS MTs Negeri Majenang )

"Kita sebagai generasi muda harus meneruskan cita-cita para pahlawan untuk memajukan bngsa Indonesia. Kita juga perlu meneladani sikap patriotisme dan rela berkorban yang dilakukan oleh para pahlawan yang telah mendahului kita. Selayaknya kita tidak melupakan jasa-jasa para pahlawan karena tanpa jasa mereka kita tidak bisa menikmati kehidupan seperti sekarang ini."

NINGKATAKEN KUALITAS PARA DWIJA BASA JAWI

Oleh: Darul Rahmadi, S.Pd---Guru Matematika dan Bahasa Jawa, MTs Negeri Majenang----
Darul Rahmadi
Kagem ningkataken kualitas saha peranan guru mata pelajaran, salah satunggalipun program Kementeriaan Agami Jawa Tengah ingih menika sesarengan kalian Kementerian Agami Daerah Istimewa Yogyakarta manunggal ngawontenaken Diklat Ningkataken Kuliatas Para Dwija Bahasa Jawi MTs Tingkat Dasar ingkang kalaksanakaken kawiwitan rikolo dinten Senen surya kaping 18 September 2011 dumugi titimangsa dinten rabu surya kaping 29 September 2011. 

Diklat Ningkataken Kuliatas Para Dwija Bahasa Jawi MTs Tingkat Dasar meniko tujuanipun haningkataken potensi Dwija Bahasa Jawi wonten Kementerian Agami, haningkataken kemampuan profesionalanipun soho kompetensinipun supados langkung saged ngembanggaken mutu lan prestasi kerja wonten satker kerjanipun kiyambak-kiyambak. 

Dasar Pedoman Diklat Ningkataken Kuliatas Para Dwija Bahasa Jawi MTs Tingkat Dasar ingkang diwontwnaken dening Kementerian Agami Jawa Tengah sesarengan kalian Kementerian Agami Daerah Istimewa Yogyakarta inggih menika : 1. Undang-undang RI Nomor 8 Taun 1974 babagan Pokok-pokok pegawai ingkang disempurnakaken kaliyan Undang-undang RI Nomor 43 Taun 1999. 2. Peraturan Pemerintah Nomor 101 Taun 2000 babagan Pendidikan soho Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri Sipil. 3. Keputusan Menteri RI Nomor 1 Taun 2003, Surya kaping 2 Januari 2003 babagan Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan soho Pelatihan PNS wonten Lingkungan Kementeriaan Agami. 4. Keputusan Menteri Agama RI Nomor 345 Taun 2004 Surya kaping 14 Juni 2004 babagan Organisasi soho Tata Kerja Balai Pendidikan soho Pelatihan Keagamaan. 5. DIPA Balai Pendidikan Soho Pelatihan Keagamaan Semarang Taun Anggaran 2011 nomor : 0650/025.11.2.01/13/2011 Surya kaping 20 Desember 2010, Kode Kegiatan : 2152.01.001, AKUN : 521211, 521213 , 521219 , 522115 , 524119. 

Diklat Ningkataken Kuliatas Para Dwija Bahasa Jawi MTs Tingkat Dasar meniko dipunlampahi dening para dwija bahasa jawi katahipun 30 duto saking Kementerian Agami Provinsi Jawa Tengah soho Kementerian Agami Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Rincian para Dwija inggih menika saking Kementerian Agami Provinsi Jawa Tengah katahipun 24 para dwija soho 6 duto saking Kementerian Agami Daerah Istimewa Yogyakarta.

Saking 30 Duto menika, kasunyatanipun wonten 50% para Dwija ingkang gadhah Ijazah ananging sanes saking jurusan Bahasa Jawi. Ananging amargi sampun tugasipun soho profesionalipun, para Dwija ingkang sanes saking jurusan Bahasa Jawi tetep kemawon kawruhipun mboten benten kaliyan ingkang jurusan Bahasa Jawi. Para Dwija Diklat Ningkataken Kuliatas Para Dwija Bahasa Jawi MTs Tingkat Dasar sami antosias, semangat mirengaken soho nindakaken sedoyo tugas saking Widya Iswara dumugi paripurna. Kawruh ingkang dipunwulangaken wonten Diklat Ningkataken Kuliatas Para Dwija Bahasa Jawi MTs Tingkat Dasar antawasipun inggih menika : Kebijakan Diklat PNS wonten Lingkungan Kemenag, Kebijakan Mapenda babagan Pembinaan Madrasah, UUD 1945, Ketetepan soho Putusan MPR, Standar Nasional Pendidikan, Standar Kompetensi Guru soho Pengembangan Profesi Guru , Konsep dasar Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Dasar Pendidikan, Konsep Pembelajaran soho Pemetaan Materi Bahasa Jawi, Pengembangan Silabus soho Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ingkang cocok kalian Panduan Pengembangan KTSP, Pendidikan Budaya soho Karakter Bangsa (PBKB), Penilaian Pembelajaran, Model-model Pembelajaran, Pemanfaatan Media soho Sumber Pebelajaran, Paedagigik, Analisis Tingkat Pembelajaran (Perencanaan, Pelaksanaan, Evaluasi, soho Refleksi wonten Proses Pembelajaran, Pendidikan NIlai-nilai Kewirausahaan, Pembicara Khusus, Pengarahan Diklat Terarah dumateng Tujuan soho Sasaran, Evaluasi, Building Learning Comintmet, Studi Lapangan/Microteaching.

Diklat Guru Seni Budaya MTs Tingkat Dasar Angkatan II

Wawancara dengan ibu Atk Wigyati, S.Pd
Atik Wigyati, S.Pd
Dalam rangka meningkatkan profesionalitas dan kompetensi  guru mapel di lingkungan kementerian agama, Balai Diklat Keagamaan Semarang mengadakan Pendidikan dan Pelatihan Guru Mapel Tingkat Dasar.

Alhamdulillah, MTs Negeri Majenang diberi kepercayaan mengirimkan salah satu tenaga pendidiknya yaitu ibu Atik Wigyati,S.Pd untuk mengikuti Diklat Guru Seni Budaya MTs Berjenjang Tingkat Dasar Angkatan II. Diklat dilaksanakan selama 10 (sepuluh hari) hari, mulai tanggal 8-17 September 2011 yang bertempat di Balai Diklat Keagamaan Semarang.

Berikut petikan wawancara  Admin Weblog MTs Negeri Majenang dengan guru pengampu Seni Budaya asal Genteng Cimanggu tersebut.


Admin Web Mts:
Apa kesan ibu selama mengikuti  diklat kemarin?

Atik Wigyati, S.Pd.:
Subhanallah, saya sangat bersyukur mendapatkan kesempatan yang sangat berharga ini. Walaupun basic keilmuan saya bukan seni tapi geografi sehingga boleh dikata tidak ‘match' dengan diklat yang saya ikuti namun justru disitulah tantangan untuk saya mendapat pengalaman baru, ilmu  yang sangat bermanfaat untuk pengembangan kualitas saya pribadi sebagai tenaga pengajar pada mapel seni budaya dan untuk pengembangan madrasah umumnya.

Admin Web Mts:
Materi apa saja yang diperoleh dari diklat tersebut?

Atik Wigyati, S.Pd. :
Ada 3 kelompok materi yaitu, pertama,   kelompok dasar meliputi : kebijakan diklat PNS, kebijakan mapenda tentang pembinaan madrasah, UUD RI 1945. Kedua, kelompok inti  yang meliputi standar nasional pendidikan, standar kompetensi guru dan pengembangan profesi guru,. Ketiga,  konsep dasar pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan, konsep pembelajaran dan pemetaan materi seni budaya, pengembangan silabus dan RPP sesuai dengan paduan pengembangan KTSP, Pendidikan budaya dan karakter bangsa, penilaian pembelajaran, model model pembelajaran, pemanfaatan media dan sumber pembelajaran, paedagogik, analisis tingkat pembelajaran, pendidikan nilai nilai kewirausahaan. Dan kelompok penunjang seperti pengarahan program dan evaluasi, BLC, study lapangan, microteaching dan RTL.

Admin Web Mts:
Apa saran ibu untuk guru MTs N Majenang yang belum pernah ikut diklat?

Atik Wigyati, S.Pd:
Kalau boleh saya urun rembug, pemanggilan untuk mengikuti diklat janganlah dijadikan momok atau sesuatu yang menakutkan. Bagi saya ini justru kesempatan yang sngat berharga untuk semakin mengasah kemampuan,  bertambahnya ilmu dan wacana serta wawasan baru yang itu mungkin tidak akan kita jumpai di kesempatan lain.

Sukses MTs Negeri Majenang…
Semoga Allah meridhoi langkah dan perjuangan kita. Amiin ya robbal alamiin

Info MTs