Select Menu

Prestasi

Karya Siswa

Profil Siswa

Karya Guru

Profil Guru

Info Pendidikan

Puisi Kehilangan Karya Guru

Puisi berjudul "Kehilangan" ini buah karya dari Emilia, S.Pd., seorang  guru Bahasa Indonesia MTs Negeri Majenang. Beliau alumnus Universitas Galuh, Ciamis. Saat ini berdomisili di Karangpucung. Beliau mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas 7 dan 8. Puisi tersebut  menceritakan seorang ibu yang kehilangan buah hatinya. Sang ibu merasakan kesedihan yang begitu dalam.


 Kehilangan

Jemari mungil nan lentik tak bernoda dan berdosa
pupus dihempas tirani dunia
Induk yang kehilangan sangkar emasnya
terjerat kehampaan semu yang nyata
Lenterapun terdiam duduk manis menanti empunya

Jiwa tak berpenghuni terlelap dalam buaian rindu
Melati putih mongering di atas pusarannya
Namanya terukir indah dalam nisan kokoh

Amboi … begitu  pahitnya
Angin berlarian menembus batas cakrawala
Daun-daun kering  gugur tak tentu arah langkahnya
Kesunyian menyelimuti malam tak berbintang
Mendekap gerimis yang tak kunjung hilang

***

Pentingnya Reward untuk Anak Didik

Oleh : Yuni Rahmawati, S.Pd.
Guru Bahasa Inggris MTs Negeri Majenang, Tinggal di Kota Banjar
Reward adalah segala sesuatu yang berupa penghargaan yang menyenangkan perasaan yang diberikan kepada siswa karena hasil baik dalam proses pendidikannya dengan tujuan agar senantiasa melakukan pekerjaan yang baik dan terpuji (Anjar Ginanjar : 2013).  Reward merupakan sebuah kata yang sangat sederhana sekali, namun begitu besar artinya jika kita berikan pada anak didik.

Dalam agama Islam juga mengenal metode reward, hal ini terbukti dengan adanya pahala. Pahala adalah bentuk penghargaan yang diberikan Allah SWT kepada umat manusia yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh, misalnya: shalat, puasa, membaca Al-quran, dan perbuatan baik lainnya.

Dalam Al-quran dijelaskan bahwa kita dianjurkan untuk berbuat kebaikan. Seperti terdapat dalam Q.S. Al-baqarah ayat  261 yang artinya: Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji.  Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Al-baqarah: 261).

Peranan reward dalam proses pengajaran cukup penting terutama sebagai faktor eksternal dalam mempengaruhi dan mengarahkan perilaku siswa. Hal ini berdasarkan atas berbagai pertimbangan logis, diantaranya reward dapat menimbulkan motivasi belajar siswa dan dapat mempengaruhi perilaku positif dalam kehidupan siswa.

Kita sebagai pendidik, seringkali lupa untuk memberikan penghargaan kepada anak didik yang di kelasnya pandai, aktif, atau memang sudah pintar sebelumnya. Kita merasa bahwa anak itu memang sudah pintar, jika diberi reward juga sudah hal biasa. Padahal satu bentuk reward berupa tepukan tangan yang sangat sepele saja, jika diberikan pada sisiwa-siswa kita, hal itu bisa menjadi suatu motivasi yang sangat luar biasa. Kepada anak pintar saja, kita sering lupa memberi reward apalagi kepada anak- anak kita yang malas, tidak aktif, dan sering membuat masalah di kelasnya. Terkadang anak tersebut malahan sering kita marahi, cuekin, menunjukan rasa tidak suka, terlebih lagi menghinanya. Padahal anak-anak tersebut yang lebih membutuhkan reward. Mungkin dibalik itu semua, ada sisi kelebihannya yang kita belum tahu. 

Kita merasa sering berat sekali mengucapkan kata-kata pujian pada mereka, dengan kata lain kita itu pelit dalam mengucapkannya, sehingga bukan perubahan sikap yang mereka lakukan, tetapi anak didik kita semakin tidak merasa percaya diri, malas, dan akhirnya mereka tidak mau sekolah karena sikap kita sebagai guru/pendidik yang kurang baik kepada siswa.

Betapa kita harus menyadari bahwa reward yang paling sederhana sekalipun dapat merubah dunia anak didik kita menjadi lebih baik dan menjadi siswa yang bersemangat untuk menggapai cita-citanya.

Hubungannya dengan mapel bahasa Inggris, karena penulis sebagai guru bahasa Inggris, ada suatu pengalaman di mana sebagian siswa kesulitan atau mendapatkan masalah dalam pelajaran bahasa Inggris. Mereka berpikir bahasa Inggris adalah bahasa asing,  susah sekali untuk dipelajari, sehingga muncul kata-kata tidak suka pada pelajaran tersebut. Ditambah lagi dengan sikap guru yang tidak ramah dan selalu merasa lebih pintar dari murid-muridnya, membuat mereka tidak kerasan di kelas jika di ajar bahasa Inggris. Lalu saya berpikir bagaimana caranya agar anak-anak suka, karena kemauan belajar itu diawali dengan rasa suka entah itu suka pada pelajaranya atau kepada guru yang mengajarnya. 

Pengalaman ini terjadi di kelas IX,  di mana anak sedang berat-beratnya menyesuaikan diri untuk berjuang bisa lulus dari sekolah dan ingin suasana belajarnya nyaman. Suatu hari setelah berjalan beberapa lama, para siswa mulai mengeluh jika diajar mapel bahasa Inggris, muncul pikiran mungkin saya sebagai pengajar jarang memberikan sesuatu yang menyenangkan hati mereka. Ternyata kuncinya adalah pada reward itu sendiri. Para siswa ingin sesuatu yang mereka lakukan bisa dihargai walaupun dengan kata-kata pujian. 

Suatu hari saya memberikan tugas menghafal kosa kata, dan ada beberapa siswa yang kemampuannya di bawah standar dan bisa di katakan siswa yang malas di kelasnya, dia maju dan berusaha untuk menghafal beberapa kata walau tidak semua, kemudian saya keluarkan kata-kata “hebat, tepuk tangan...i love you”.Ternyata kekuatan kata-kata itu begitu dahsyat, keesokan harinya anak itu terlihat lebih rajin dan bersemangat di kelasnya, dan dia mengatakan kepada saya, ”Gitu dong bu...”. 

Saya langsung merasa bahwa sebagai pengajar tidak seharusnya kita selalu memarahi siswa, tapi perlihatkan sisi penghargaan kita dalam bentuk reward kepada mereka, walaupun yang mereka lakukan belum sempurna.

Bagaimanapun pendidikan jaman sekarang sudah berbeda dengan jaman dulu.  Kalau   dulu pendidik kadang berbuat semena-mena kepada siswanya, tapi jaman sekarang sudah berubah. Majunya teknologi dapat mempengaruhi daya pikir siswa baik yang negatif atau positif. Mereka dapat memperoleh informasi apapun dari teknologi itu sendiri. Mereka semakin bisa berpikir kritis, tahu mana yang boleh dan tidak boleh, sehingga mereka dapat berontak kapan pun jika kondisinya belum nyaman. 

Oleh karena itu, mendidik dengan kekerasan sudah tidak diperbolehkan tapi dengan cara-cara yang lebih halus, salah satunya dengan reward itu sendiri.  Kita sebagai pendidik harus lebih bijaksana, sehingga siswa-siswa kita dapat belajar dengan rasa senang menimba ilmu untuk masa depan mereka yang cerah.

Begitulah kiranya, betapa besarnya pengaruh reward pada kehidupan anak didik kita. Marilah kita para pendidik untuk tidak ragu-ragu dan tidak bosan-bosannya memberikan penghargaan pada mereka. Sehingga mereka akan merasa nyaman mencari ilmu dan tidak menganggap guru adalah sosok yang menakutkan tapi sebagai sosok yang bijaksana dan penuh rasa mengasihi.
***

Jalan Sehat di Tengah Gerimis Hujan

Sekira dua ribu orang mengikuti Jalan Sehat Umat Beragama dalam rangka Hari Amal Bakti Kemenag ke-68, Sabtu (21/12) kemarin. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Kabupaten Cilacap itu berlangsung dalam cuaca mendung disertai gerimis hujan. Para peserta terdiri dari pegawai di Kementerian Agama se-Cilacap dan masyarakat umum. Turut hadir, Kepala Kemenag Kabupaten Cilacap, KH. Drs. Mughni Labib, M.Si., Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Cilacap, H.A. Muslikhin, S.H. M.Si., Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Cilacap, Moh. Taufiq Hidayatullah, S.Ag., dan tidak ketinggalan Kepala MTsN Majenang, K.H. Moch. Makhrus, S.Pd., M.Pd.

Menurut penuturan panitia, peserta yang terdaftar sebenarnya mencapai lima ribu lebih dengan melihat jumlah kupon doorprize yang tersebar. Namun, karena hujan turun sejak pagi maka kebanyakan peserta urung mengikuti acara tahunan tersebut. Sepanjang perjalanan peserta harus rela kehujanan. Sebagian peserta memakai payung dan sebagian lainnya menggunakan jas hujan. Bahkan sebagian lain membatalkan mengikuti jalan sehat dan hanya duduk-duduk di tempat yang teduh.

Rombongan dari MTs Negeri Majenang sebanyak 36 orang yang terdiri dari guru dan karyawan berangkat dengan naik bus Argo Mulyo pukul 05.30 WIB dan baru sampai Cilacap pukul 08.00 WIB. Selanjutnya mereka bergabung dengan peserta lain untuk mengikuti jalan sehat dengan diiringi gerimis hujan. Sebagian guru sempat berkelakar bahwa acara kali ini lebih pasnya  bukan jalan sehat tapi jalan sakit karena para peserta nekad hujan-hujanan. Sebagian lain berujar sesekali jalan bersama sambil hujan-hujanan lebih asyik.

Hadiah Sepeda Motor
Sebenarnya jalan sehat tahun ini menarik minat banyak calon peserta karena hadiah utamanya adalah sebuah sepeda motor. Namun, karena hujan akhirnya tidak semua bisa mengikuti. Hadiah lain pun telah disiapkan oleh panitia. Televisi, kulkas, sepeda, mesin cuci termasuk sebagian hadiah yang nampak kelihatan di panggung. 

Album Kegiatan Jalan Sehat


Dewi fortuna rupanya menghampiri salah satu guru MTs Negeri Majenang, Ibu Hj. Jamilatun Munawaroh, S.Pd.,  yang berhasil membawa pulang hadiah doorprize berupa sebuah sepeda lipat berwarna biru. Sepeda pun diangkut ke dalam bus setelah sebelumnya dilipat oleh Mas Kiswanto. Sedangkan yang berhasil mendapatkan sepeda motor yaitu anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Cilacap yang berasal dari Cilacap kota. ***

Peserta jalan sehat sebagian memakai payung dan menutup 
kepala dengan jaket agar tidak kehujanan
Salah satu peserta jalan sehat orang bule yang berkomunikasi 
dengan Bapak Yusuf Wibisono (Guru Bahasa Inggris)

Pendapat Mereka Tentang HUT RI

Oleh Admin Weblog MTs N Majenang
Assalamu a'laikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Dalam rangka memeringati HUT RI ke-68 tahun 2013, pengelola weblog MTsN Majenang mengajukan pertanyaan tentang makna HUT RI.

"Sejumlah pendapat yang terhimpun semoga menjadi bahan renungan kita dalam rangka memaknai momentum HUT Kemerdekaan RI yang ke-68 ini."

Kami sampaikan ucapan terima kasih yang tulus dan penghargaan yang tinggi kepada bapak/ibu/saudara yang berkenan memberikan pendapatnya. Demikian dan terima kasih.

Imamoto, S.Pd.------Guru Bahasa Indonesia, Kapus MTs Negeri Majenang

"HUT RI merupakan momentum historis sebagai tonggak penanaman nilai-nilai patriotik kepada generasi muda." 
Solihun, S.Pd., M.Si.----- Guru IPS MTs Negeri Majenang, Kepala MI Sabilunnajah, Pahonjean

"Merdeka!!! Mari kita isi kemerdekaan dengan perjuangan tiada henti. Merdeka!!!"
Darul Rahmadi, S.Pd.----- Guru Matematika MTs Negeri Majenang

"Tetap semangat untuk memajukan bangsa dan Negara yang bermartabat. Mari jalin kebersamaan dan sikapi dengan bijak segala perbedaan."
Eny Suprihatiningsih, S.Pd.-----Guru IPA MTs Negeri Majenang

"HUT RI sebagai pengingat untuk tetap waspada terhadap penjajahan yang tidak terasa."
Tri Mulyanto, S.Pd. -----Guru Bahasa Indonesia MTs Negeri Majenang

"Ajang introsfeksi diri untuk mengevaluasi sejauhmana kita telah mengisi kemerdekaan yang telah diwariskan para pejuang. Mari kita lanjutkan perjuangan mereka dengan dengan memajukan bangsa dan negara sesuai kemampuan kita masing-masing."
Ahmad Subechi-----Ketua OSIS MTs Negeri Majenang 2012-2013

"Tunjukkan sikap patriotisme kita kepada NKRI dalam HUT RI ke-68 ini. Semoga bangsa Indonesia menjadi bangsa yang bermoral dan menjadi contoh bagi negara lain. Merdeka!!! Merdeka!!! Merdeka!!!"
Jaelani, S.Ag.------Guru Bahasa Arab MTs Negeri Majenang, Pengurus NU Ranting Tayem

"Orang yang bijak dan arif adalah orang yang mau dan siap untuk mentauladani para penjuang dan melanjutkan perjuangan mereka lewat pendidikan, agama dan bidang umum lainnya."

Mengenal Lebih Dekat MTs Negeri Majenang

Oleh: Deni Kurniawan As'ari, S.Pd  
Admin Weblog MTs Negeri Majenang
 
MTs Negeri Majenang terus berbenah. Di tengah persaingan sekira 15 SMP/MTs negeri dan swasta yang berada di Kecamatan Majenang. Madrasah yang berdiri megah di tepi jalur jalan antarprovinsi yang menghubungkan Provinsi Jawa Tengah dengan Jawa Barat jalur Selatan itu terlihat anggun. Warna cat hijau muda yang dikelilingi pesawahan yang sedang menguning menambah nuansa beda. Aliran sungai yang terletak di depan madrasah semakin menambah kesan sejuk.  Masyarakat pedesaan di sekitar madrasah yang sebagian besar bermata pencahariaan petani semakin mengokohkan bahwa alam pedesaan begitu kental dan terasa. Tanahnya cukup subur dan cocok untuk lahan pertanian.
Letak yang strategis dan dukungan masyarakat setempat yang optimal itulah barangkali yang membuat madrasah ini semakin hari terus berkembang. Sarana dan prasarananya terus diupayakan untuk dilengkapi. Begitu pun SDM—guru dan karyawan mendapat perhatian penuh dari pimpinan untuk ditingkatkan profesionalitas dan kompetensinya.
Cikal Bakal
MTs ini pada mulanya berawal dari sebuah Pesantren yang bernama Darutsawab. Tidak lama kemudian berdirilah lembaga pendidikan formal yang bernama Madrasah Tsanawiyah Ma’arif Geblogan yang berada di Geblogan, Pahonjean. Pesantren itu dipimpin KH. Rosidin dan dibantu kedua putranya yang bernama Kyai Imam Bulqin dan Kyai Imam Thobroni.

Berdasarkan catatan sejarah, tahun 1971, nama ma’arif berubah menjadi DARWATA—-Darul Tarbiyah Watta’lim dan yang menjadi pimpinan yaitu Kyai Imam Thobroni. Konon, saat itu siswanya masih sedikit sekali karena memang tidak semua santri mau belajar di lembaga pendidikan formal. Namun seiring perjalan waktu, step by step siswa MTs Darwata semakin banyak, terutama seiring dengan kebutuhan akan ijazah yang sifatnya formal.

Sembilan tahun kemudian, tepatnya 1980, MTs Darwata Geblogan bermetamorfosis menjadi MTs Negeri Karanganyar Filial di Pahonjean dengan SK dari Dirjen Binbaga Islam Nomor : KEP/E-II/1980 tanggal 22 September 1980. Saat itu yang menjadi pimpinan Bapak Chujjirna BA. Siswanya terbilang lumayan menembus angka 500. Pada tahun 1982 Chujjirna BA. digantikan oleh Drs. Bunyamin. 

Selanjutnya pada 1991, Madrasah Tsanawiyah Negeri Karanganyar Filial di Pahonjean meningkat statusnya menjadi mandiri—-berubah menjadi Madrasah Tsanawiyah Negeri Majenang, Kabupaten Cilacap. Perubahan ini berdasarkan SK. Nomor : 137 Tahun 1991. Adapun Kepala pertamanya, Drs. H. Bunyamin kemudian berturut-turut digantikan oleh Drs. Khujirno, Hj. Ngadiyah B.A. dan Drs. Muslimin Winoto, M.Pd.I. Tercatat sampai tahun 2010 MTs Negeri Majenang telah mengalami 5 (lima) kali pergantian pucuk pimpinan. Semenjak Pebruari 2010, yang menjadi nakhodanya yaitu H. Moch. Makhrus, S.Pd., M.Pd. yang sebelumnya menjabat kamad MTs Negeri Karangpucung.

Makna Hari Pahlawan Menurut Guru dan Siswa

Oleh Admin Weblog MTs N Majenang
Assalamu a'laikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Dalam rangka memeringati Hari Pahlawan, 10 November 2011, pengelola weblog MTsN Majenang mengajukan pertanyaan tentang makna Hari Pahlawan.

"Sejumlah pendapat yang terhimpun semoga menjadi bahan renungan kita dalam rangka memaknai momentum hari pahlawan dan sekaligus mengisi hasil kemerdekaan yang telah diperjuangkan para pendahulu kita."

Kami sampaikan ucapan terima kasih yang tulus dan penghargaan yang tinggi kepada bapak/ibu/saudara yang berkenan memberikan pendapatnya. Demikian dan terima kasih.

Yusuf Wibisono, S.Pd (Guru Bahasa Inggris MTsN Majenang, Sekretaris Yayasan YAPIA Wanareja)

"Momentum hari pahlawan tahun ini, hendaknya sebagai generasi muda harus punya semangat yang tinggi untuk meneruskan cita-cita luhur para pahlawan pendahulu kita. " 
Hj. Nur Mardiyah, S.Pd (Guru PKn MTs Negeri Majenang, Ketua Muslimat NU Wanareja)

"Semangat kepahlawanan harus tetap dimiliki oleh seluruh WNI, dalam situasi perang maupun damai. Hal itu tidak bisa ditawar-tawar lagi jika kita masih ingin eksis dalam situasi pergaulan dunia yang semakin maju dan modern. Tapi harus diingat, kita harus tetap "Cekelan Waton", maju yang beradab dan berkarakter. Merdeka!!!"
Okah Imtikhanah, S.Pd (Guru Matematika, Wakil Kepala Kesiswaan MTs Negeri Majenang)

"Suritauladani pahlawan bangsa. Kita sebagai generasi penerus, harus membekali diri  dengan agama, ilmu dan budi pekerti yang terpuji dan selalu memohon petunjuk Allah SWT."
Atik Wigyati, S.Pd (Guru IPS MTs Negeri Majenang, Mantan Ketua Nasyiatul Aisyah Majenang)

"Saya sangat terkesan dengan kata-kata Bung Karno yang sangat terkenal : Bangsa yang besar adalah bangsa yang tak melupakan sejarahnya. JAS MERAH!!! Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Dengan semangat hari pahlawan kita lanjutkan perjuangan para pahlawan dengan selalu profesional dalam bidang dan kompetensinya masing-masing."
Tri Mulyanto, S.Pd (Guru Bahasa Indonesia MTs Negeri Majenang)

"Dengan hari pahlawan seyogyanya dapat kita jadikan sebagai ajang introsfeksi diri sejauhmana apa yang telah kita lakukan, kita perbuat terutama untuk bangsa, negara khususnya lingkungan sekitar kita. Sudahkanh kita melanjutkan dan mengisi alam kemerdekaan ini sesuai dengan apa yang diperjuangkan dan dicita-citakan oleh para pahlawan yang telah mendahului kita."
Misye Arbiyan (Ketua OSIS MTs Negeri Majenang )

"Kita sebagai generasi muda harus meneruskan cita-cita para pahlawan untuk memajukan bngsa Indonesia. Kita juga perlu meneladani sikap patriotisme dan rela berkorban yang dilakukan oleh para pahlawan yang telah mendahului kita. Selayaknya kita tidak melupakan jasa-jasa para pahlawan karena tanpa jasa mereka kita tidak bisa menikmati kehidupan seperti sekarang ini."

NINGKATAKEN KUALITAS PARA DWIJA BASA JAWI

Oleh: Darul Rahmadi, S.Pd---Guru Matematika dan Bahasa Jawa, MTs Negeri Majenang----
Darul Rahmadi
Kagem ningkataken kualitas saha peranan guru mata pelajaran, salah satunggalipun program Kementeriaan Agami Jawa Tengah ingih menika sesarengan kalian Kementerian Agami Daerah Istimewa Yogyakarta manunggal ngawontenaken Diklat Ningkataken Kuliatas Para Dwija Bahasa Jawi MTs Tingkat Dasar ingkang kalaksanakaken kawiwitan rikolo dinten Senen surya kaping 18 September 2011 dumugi titimangsa dinten rabu surya kaping 29 September 2011. 

Diklat Ningkataken Kuliatas Para Dwija Bahasa Jawi MTs Tingkat Dasar meniko tujuanipun haningkataken potensi Dwija Bahasa Jawi wonten Kementerian Agami, haningkataken kemampuan profesionalanipun soho kompetensinipun supados langkung saged ngembanggaken mutu lan prestasi kerja wonten satker kerjanipun kiyambak-kiyambak. 

Dasar Pedoman Diklat Ningkataken Kuliatas Para Dwija Bahasa Jawi MTs Tingkat Dasar ingkang diwontwnaken dening Kementerian Agami Jawa Tengah sesarengan kalian Kementerian Agami Daerah Istimewa Yogyakarta inggih menika : 1. Undang-undang RI Nomor 8 Taun 1974 babagan Pokok-pokok pegawai ingkang disempurnakaken kaliyan Undang-undang RI Nomor 43 Taun 1999. 2. Peraturan Pemerintah Nomor 101 Taun 2000 babagan Pendidikan soho Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri Sipil. 3. Keputusan Menteri RI Nomor 1 Taun 2003, Surya kaping 2 Januari 2003 babagan Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan soho Pelatihan PNS wonten Lingkungan Kementeriaan Agami. 4. Keputusan Menteri Agama RI Nomor 345 Taun 2004 Surya kaping 14 Juni 2004 babagan Organisasi soho Tata Kerja Balai Pendidikan soho Pelatihan Keagamaan. 5. DIPA Balai Pendidikan Soho Pelatihan Keagamaan Semarang Taun Anggaran 2011 nomor : 0650/025.11.2.01/13/2011 Surya kaping 20 Desember 2010, Kode Kegiatan : 2152.01.001, AKUN : 521211, 521213 , 521219 , 522115 , 524119. 

Diklat Ningkataken Kuliatas Para Dwija Bahasa Jawi MTs Tingkat Dasar meniko dipunlampahi dening para dwija bahasa jawi katahipun 30 duto saking Kementerian Agami Provinsi Jawa Tengah soho Kementerian Agami Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Rincian para Dwija inggih menika saking Kementerian Agami Provinsi Jawa Tengah katahipun 24 para dwija soho 6 duto saking Kementerian Agami Daerah Istimewa Yogyakarta.

Saking 30 Duto menika, kasunyatanipun wonten 50% para Dwija ingkang gadhah Ijazah ananging sanes saking jurusan Bahasa Jawi. Ananging amargi sampun tugasipun soho profesionalipun, para Dwija ingkang sanes saking jurusan Bahasa Jawi tetep kemawon kawruhipun mboten benten kaliyan ingkang jurusan Bahasa Jawi. Para Dwija Diklat Ningkataken Kuliatas Para Dwija Bahasa Jawi MTs Tingkat Dasar sami antosias, semangat mirengaken soho nindakaken sedoyo tugas saking Widya Iswara dumugi paripurna. Kawruh ingkang dipunwulangaken wonten Diklat Ningkataken Kuliatas Para Dwija Bahasa Jawi MTs Tingkat Dasar antawasipun inggih menika : Kebijakan Diklat PNS wonten Lingkungan Kemenag, Kebijakan Mapenda babagan Pembinaan Madrasah, UUD 1945, Ketetepan soho Putusan MPR, Standar Nasional Pendidikan, Standar Kompetensi Guru soho Pengembangan Profesi Guru , Konsep dasar Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Dasar Pendidikan, Konsep Pembelajaran soho Pemetaan Materi Bahasa Jawi, Pengembangan Silabus soho Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ingkang cocok kalian Panduan Pengembangan KTSP, Pendidikan Budaya soho Karakter Bangsa (PBKB), Penilaian Pembelajaran, Model-model Pembelajaran, Pemanfaatan Media soho Sumber Pebelajaran, Paedagigik, Analisis Tingkat Pembelajaran (Perencanaan, Pelaksanaan, Evaluasi, soho Refleksi wonten Proses Pembelajaran, Pendidikan NIlai-nilai Kewirausahaan, Pembicara Khusus, Pengarahan Diklat Terarah dumateng Tujuan soho Sasaran, Evaluasi, Building Learning Comintmet, Studi Lapangan/Microteaching.

Diklat Guru Seni Budaya MTs Tingkat Dasar Angkatan II

Wawancara dengan ibu Atk Wigyati, S.Pd
Atik Wigyati, S.Pd
Dalam rangka meningkatkan profesionalitas dan kompetensi  guru mapel di lingkungan kementerian agama, Balai Diklat Keagamaan Semarang mengadakan Pendidikan dan Pelatihan Guru Mapel Tingkat Dasar.

Alhamdulillah, MTs Negeri Majenang diberi kepercayaan mengirimkan salah satu tenaga pendidiknya yaitu ibu Atik Wigyati,S.Pd untuk mengikuti Diklat Guru Seni Budaya MTs Berjenjang Tingkat Dasar Angkatan II. Diklat dilaksanakan selama 10 (sepuluh hari) hari, mulai tanggal 8-17 September 2011 yang bertempat di Balai Diklat Keagamaan Semarang.

Berikut petikan wawancara  Admin Weblog MTs Negeri Majenang dengan guru pengampu Seni Budaya asal Genteng Cimanggu tersebut.


Admin Web Mts:
Apa kesan ibu selama mengikuti  diklat kemarin?

Atik Wigyati, S.Pd.:
Subhanallah, saya sangat bersyukur mendapatkan kesempatan yang sangat berharga ini. Walaupun basic keilmuan saya bukan seni tapi geografi sehingga boleh dikata tidak ‘match' dengan diklat yang saya ikuti namun justru disitulah tantangan untuk saya mendapat pengalaman baru, ilmu  yang sangat bermanfaat untuk pengembangan kualitas saya pribadi sebagai tenaga pengajar pada mapel seni budaya dan untuk pengembangan madrasah umumnya.

Admin Web Mts:
Materi apa saja yang diperoleh dari diklat tersebut?

Atik Wigyati, S.Pd. :
Ada 3 kelompok materi yaitu, pertama,   kelompok dasar meliputi : kebijakan diklat PNS, kebijakan mapenda tentang pembinaan madrasah, UUD RI 1945. Kedua, kelompok inti  yang meliputi standar nasional pendidikan, standar kompetensi guru dan pengembangan profesi guru,. Ketiga,  konsep dasar pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan, konsep pembelajaran dan pemetaan materi seni budaya, pengembangan silabus dan RPP sesuai dengan paduan pengembangan KTSP, Pendidikan budaya dan karakter bangsa, penilaian pembelajaran, model model pembelajaran, pemanfaatan media dan sumber pembelajaran, paedagogik, analisis tingkat pembelajaran, pendidikan nilai nilai kewirausahaan. Dan kelompok penunjang seperti pengarahan program dan evaluasi, BLC, study lapangan, microteaching dan RTL.

Admin Web Mts:
Apa saran ibu untuk guru MTs N Majenang yang belum pernah ikut diklat?

Atik Wigyati, S.Pd:
Kalau boleh saya urun rembug, pemanggilan untuk mengikuti diklat janganlah dijadikan momok atau sesuatu yang menakutkan. Bagi saya ini justru kesempatan yang sngat berharga untuk semakin mengasah kemampuan,  bertambahnya ilmu dan wacana serta wawasan baru yang itu mungkin tidak akan kita jumpai di kesempatan lain.

Sukses MTs Negeri Majenang…
Semoga Allah meridhoi langkah dan perjuangan kita. Amiin ya robbal alamiin

Memberdayakan Forum MGMP

Deni Kurniawan As'ari
FORUM MGMP yang sejatinya menjadi wadah untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalisme guru, kini sebagian besar seolah hidup enggan, mati pun tak mau. Eksistensinya antara ada dan tiada. Boleh jadi, secara kepengurusan ada, namun aktivitas dan manfaatnya tidak terasa. Bahkan ada beberapa MGMP di suatu kabupaten hanya tinggal nama. Ada pula MGMP yang kembali menggeliat ketika mendapat suntikan dana dari pemerintah berupa blockgrant. Kalau tidak ada, ya sudah!
Kenyataan ini ditambah dengan ‘plesetan sumir’ yang sering ditujukan kepada pengurus MGMP dengan akronim : Mulih Gasik Mampir Pasar. Maksudnya pulang awal, kemudian mampir ke pasar. Barangkali sebutan ini muncul karena pernah ada beberapa pengurus MGMP yang suka seperti itu. MGMP hanya menjadi tempat kumpul-kumpul dan kangen-kangenan yang jauh dari nilai akademik dan ilmiah untuk mendiskusikan berbagai persoalan pembelajaran.
Sebagai wadah profesi yang bersifat nonstruktural, sesungguhnya MGMP memiliki peran penting dan strategis untuk meningkatkan mutu guru. Meminjam ungkapan Prof. Dr. H. Fasli Jalal ----Wakil Mendiknas RI---- bahwa forum MGMP dipercaya menjadi salah satu sarana yang efektif dalam upaya pembinaan profesionalisme guru dalam kerangka kegiatan “oleh, dari dan untuk guru” (2005). Dalam hemat penulis, ungkapan wamendiknas itu dapat dipahami ketika forum MGMP mampu memainkan peran dan fungsinya secara optimal.

Arief Achmad (2004) memaparkan bahwa setidaknya ada 6 (enam) tujuan MGMP.Pertama, memotivasi guru guna meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam merencanakan, melaksanakan, dan membuat evaluasi program pembelajaran. Kedua untuk menyatakan kemampuan dan kemahiran guru dalam melaksanakan pembelajaran sehingga dapat menunjang usaha peningkatan dan pemerataan mutu pendidikan. Ketiga untuk mendiskusikan permasalahan yang dihadapi dan dialami oleh guru dalam melaksanakan tugas sehari-hari dan mencari solusi alternatif pemecahannya sesuai dengan karakteristik mata pelajaran masing-masing, guru, kondisi sekolah, dan lingkungannya; Keempat, untuk membantu guru memperoleh informasi teknis edukatif yang berkaitan dengan kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi, kegiatan kurikulum, metodologi, dan sistem pengujian yang sesuai dengan mata pelajaran yang bersangkutan; Kelima, saling berbagi informasi dan pengalaman dari hasil lokakarya, simposium, seminar, diklat, classroom action research, dan referensi; dan keenam, mampu menjabarkan dan merumuskan agenda reformasi sekolah (school reform), khususnya focus classroom reform, sehingga berproses pada reorientasi pembelajaran yang efektif.

Hanya saja, pelbagai tujuan mulia di atas belum sepenuhnya dapat dicapai oleh forum MGMP saat ini. Berdasarkan tinjauan penulis, ada 3 (tiga) kategori kondisi MGMP. Pertama, MGMP yang aktif —--rutin ada kegiatan–-- Dua, MGMP kurang aktif –--kadang ada kegiatan–-- teruatama kalau ada bantuan dana dari pemerintah, dan tiga, MGMP tidak aktif –--tidak pernah ada kegiatan sama sekali–--

Komitmen Tinggi
Menurut penulis setidaknya ada 6 (enam) kiat yang musti dipertimbangkan untuk memberdayakan forum MGMP.

Pertama, dimilikinya sosok ketua MGMP yang kapabel (mampu), kredibel (dapat dipercaya), akseptabel (dapat diterima) dan responsibel (bertanggungjawab). Hal ini penting karena ketua sebagai penggerak berjalannya forum MGMP. Sosok ketua harus mampu mengarahkan, memimpin dan memiliki keterampilan teknis yang memadai.

Kedua, komitmen tinggi pengurus dan anggota. Personil yang menjadi pengurus perlu orang-orang yang militan dan dapat diandalkan. Komitmen dari segenap pengurus dan anggota perlu untuk terus ditingkatkan. Salah satu upayanya adalah dimilikinya rule of the game yang jelas dan visi misi yang dipahami bersama.

Ketiga, dimilikinya program kerja. Tidak dapat dimungkri bahwa beberapa MGMP yang tidak aktif karena tidak jelasnya program kerja. Kegiatan hanya ada saat ada mood dari sang ketua atau pengurusnya. Di awal kepengurusan perlu disusun bersama program jangka pendek, menengah dan panjang yang menjadi acuan dalam action selama masa kepengurusan.

Keempat perlunya dukungan dan partisipasi semua pihak. Dukungan bukan hanya datang dari kepala sekolah namun juga dari komite sekolah, MKSS, organisasi profesi, pihak sponsor, penerbit dan tentu saja dinas pendidikan sendiri.

Kelima, perlunya dana operasional. Ada ungkapan ’jer basuki mawa bea’ bahwa suatu kegiatan perlu ditopang dana yang memadai. Untuk itu pengurus MGMP perlu kreatif dalam mencari dan menggali dana. Sangat mustahil program MGMP dapat terlaksana dengan baik tanpa dukungan dana. Penulis mengamati ada MGMP yang berhasil menggandeng kerjasama dengan pihak penerbit atau sponsor sehingga persoalan dapat diatasi. Namun masih ada MGMP di Banyumas yang sama sekali belum pernah mendapat bantuan sepeser pun dari dinas pendidikan yang bersumber dari APND atau blockground.
Keenam, pembinaan dari dinas pendidikan. Peran dinas dalam hal ini bidang dikmen dan dikdas sangat diperlukan demi terwujudnya MGMP yang sehat dan profesional.

Komitmen tersebut bisa ditunjukkan dengan memberikan kesempatan dan ruang seluas-luasnya kepada MGMP untuk menjalankan peran dan fungsinya. Selain itu secara rutin dan berkala MGMP perlu dibimbing dan diarahkan agar lebih berdaya dan dapat merealisasikan tujuannya.

Selamat berjuang kepada kawan-kawan aktivis MGMP. Sudah waktunya MGMP dapat berperan optimal demi kemajuan pendidikan.

Deni Kurniawan As'ari, Guru Mapel PKn MTs N Majenang, Mantan Ketua MGMP

BISA ITU KARENA TERBIASA

Oleh Darul Rahmadi, S.Pd ----Guru Matematika MTs Negeri Majenang-----

Darul Rahmadi
Seperti jamur di musim hujan, banyak di kota-kota sekarang tumbuh Bimbel (Bimbingan Belajar). Fenomena ini terjadi karena mereka para orang tua dan siswa fobia tidak berhasil dalam menempuh ujian nasional atau mendapat predikat tidak lulus. Sebenarnya fobia ini dapat dihilangkan dengan berbagai cara, diantarannya tentu saja pengaruh yang datang pada diri anak sendiri yang dikenal dengan faktor intern dan juga tidak terlepas dari pengaruh yang kedua yaitu bimbingan dari pendidik dalam hal ini guru sebagai faktor Ekstern.

Kenapa anak tidak berhasil ……………………………….?

Ketidakberhasilan anak ini banyak disebabkan karena anak tidak terbiasa dalam mengaplikasikan ilmu yang didapat di sekolahan. Anak datang dari rumah ke sekolah, akan tetapi di sekolah mereka tidak konsen akan apa yang didapat. Anak bertemu dengan teman-teman itu hal yang terpenting, sehingga terlupakan tujuan pokok mereka. Sebenarnya jika anak sadar akan eksistensi mereka di sekolah, mereka akan dengan ikhlas mengamalkan ilmu yang didapat demi keberhasilan yang akan datang.

Mereka merasa jemu dengan keadaan di sekolah, dan merasa tidak bisa, sulit menerima ilmu di sekolah. Mereka tidak sadar sebenarnya semua ilmu itu dapat dengan mudah dipelajari asal mau berusaha, sebab bisa itu karena terbiasa.

Coba jika kita amati kejadian demi kejadian di lingkungan kita………
Kenapa anak seusia 5 - 6 tahun biasa berbahasa Inggris, bisa berbahasa Arab, bisa berbahasa Indonesia, bahasa Sunda ataupun bahasa Jawa ?
Anak usia 5 – 6 tahun bisa berbahasa Inggris tentu saja karena kebiasaan mereka tiap hari berbahasa Inggris. Anak usia 5 – 6 tahun bisa berbahasa Indonesia tentu saja karena kebiasaan mereka tiap hari berbahasa Indonesia.

Ada seorang guru wiyata bhakti di suatu daerah punya keinginan menjadi PNS. Sementara di daerahnya tidak ada formasi untuk jurusan dia. Karena dia ingin sekali menjadi PNS maka dia mendaftar di daerah lain yang kesempatannya lebih besar padahal dia belum pernah menjamah daerah tersebut. Pertama bermodal keinginan dan kemauan maka pergilah dia untuk mendaftar di tempat yang telah ditentukan dan akhirnya dengan susah payah ketemu juga tempat yang dituju, pengetahuan yang kedua didapat dari ikut tes seleksi, sedikit faham akhirnya. Puncaknya dia diterima menjadi PNS bermodal dua pengalaman sebelumnya dicari tempat dia ditugaskan akhirnya dengan mudah ketemu juga tempat yang dituju walaupun kemungkinan waktu tempuhnya terlalu lama. Pengalaman demi pengalaman yang didapat akhirnya ditemukan jalan tercepat untuk menempuh daerah kerja yang baru.

Pengalaman ini dapat kita pahami bahwa seseorang akan sukses ke tempat tujuan harus bermodal keinginan, kemauan, dan akhirnya kebiasaan. Dengan ketiga modal utama tersebut. satu tujuan akan dapat dicapai dengan berbagai jalan. Inilah faktor intern berperanan penting. Seseorang akan menyelesaikan suatu soal dalam hal ini soal matematika dengan konsep yang telah didapat akan dapat diselesaikan dengan banyak cara. Tidak hanya tergantung pada cara yang telah diberikan oleh guru saja. Semakin banyak mereka latihan mengerjakan soal maka akan semakin banyak pengalaman yang didapat, pada akhirnya dengan mudah cara lain dan cara tercepat akan didapat. Itulah makna bisa karena terbiasa.

Tidak kalah pentingnya juga faktor ekstern akan mempengaruhi proses keberhasilan para peserta didik. Mereka akan berhasil jika yang pertama senang terhadap mata pelajarannya kemudian dengan menyenangi mata pelajaran akan menyenangi gurunya. Atau bahkan faktor tersebut bisa terbalik 180 derajat yaitu mereka menyenangi gurunya terlebih dahulu baru menyenangi mata pelajaran. Hal ini dapat terjadi jika guru dalam memberi materi menggunakan berbagai macam metode dan sarana yang tepat sesuai dengan kompetensi. Seusia anak sekolah lebih senang dan tertarik jika mereka diberi hadiah atau stimulus berupa reward apapun bentuknya. Contoh dalam hal ini kami sebagai guru matematika kelas IX tahun pelajaran 2010/2011 di MTs Negeri Majenang Kabupaten Cilacap memberi reward kepada siswa sejak awal semester pertama berupa piala sebanyak 15 piala. Piala ini akan diberikan kepada 4 siswa yang mendapat nilai matematika UN tertinggi di masing-masing kelas sebanyak 3 kelas dari 5 kelas dan tiga piala lagi diberikan kepada juara kelas dimana kami sebagai wali kelas. Tidak menutup kemungkinan juga nilai UN yang tertinggi didapat oleh siswa yang notabenenya anak yang mempunyai prestasi pas-pasan. Akan tetapi sudah menjadi kesepakatan dari awal jika terjadi semacam itu maka setelah pengumuman akan dipertarungkan lagi mereka dengan mengerjakan soal, tentu saja bukan soal UN yang sebelumnya.

Secara materi dan segi keuangan piala ini diambil dari mana? Tentu saja berkat program pemerintah yang berupa Tunjangan Guru Profesional melalui Sertifikasi. Sedikit akan tetapi bagi siswa akan sangat berharga sekali. Apalagi masih nanti ditambah dari pihak sekolah dan bahkan dari guru mata pelajaran lain yang juga membari reward, tentu saja perasaan akan semakin bangga bagi mereka yang memperolehnya.

Peserta didik akan berhasil jika mau membiasakan diri untuk belajar yang didukung pengalaman pendidik dalam mengajar dengan berbagai metode-metode diterapkan dan ditemukan sesuai dengan kemampuan peserta didik. Tidak kalah penting juga reward yang diberikan akan memberi dorongan semangat belajar mereka untuk membiasakan diri belajar agar bisa dan berhasil. 

Ingatlah .......
" BISA ITU KARENA TERBIASA "
" ANDA TIDAK BISA, ANDA PERLU MENCOBA,
" ANDA TIDAK BISA, ANDA PERLU MENCOBA,
" ANDA TIDAK BISA, JANGAN PUTUS ASA,
" JALAN PASTI DI DEPAN MATA.

Urgensi Pembelajaran Sains di Madrasah

Oleh : Ariesta Indriawati, S.Pd -----Guru Mapel IPA MTs Negeri Majenang----

Ariesta Indriawati
Sains atau biasa dikenal dengan sebutan Ilmu Pengetahuan Alam ( IPA ) merupakan salah satu materi pembelajaran yang ada di madrasah, baik madrasah ibtidaiyah, tsanawiyah maupun aliyah. Bahkan IPA termasuk mata pelajaran yang diujian nasionalkan sehingga IPA dipandang sebagai mata pelajaran yang dianggap penting untuk tidak dinomorduakan.

Rasa ingin tahu terhadap alam dan hasrat untuk lebih memahami lingkungan menjadi motivator untuk lebih mengenal dan mendalami sains. Pengamatan terhadap berbagai gejala alam dan benda-benda alam semesta dapat menyadarkan manusia betapa Maha Besar Sang Pencipta Alam Semesta. Proses pengamatan terhadap alam semesta merupakan langkah awal untuk pengenalan dan pendalaman terhadap sains. Pada tahap ini akan muncul berbagai pertanyaan dan dibutuhkan jawaban atas pertanyaan –pertanyaan tersebut. Pencarian jawaban atas pertanyaan yang muncul dapat dilakukan melalui penelitian ilmiah dan pembelajaran sains baik di sekolah / madrasah maupun di lembaga pendidikan yang lain.

Sains dapat digunakan sebagai sarana untuk menjelaskan hukum-hukum alam yang sangat relevan dengan ayat-ayat Allah SWT. Dalam QS. Al anbiya : 32 disebutkan bahwa “Kami jadikan langit, sebagai atap yang terpelihara (tiada roboh), tetapi mereka berpaling daripada ayat-ayat-Nya (dalil-dalil-Nya)”. Dari ayat tersebut dijelaskan bahwa langit sebagai atap yang terpelihara, jika dihubungkan dengan sains atap yang terpelihara berarti atmosfer bumi yang tebalnya kurang lebih 700 km. Atmosfer adalah perisai atau atap yang melindungi bumi dari beberapa hal antara lain :
1. Atmosfer melindungi bumi dari benda-benda luar angkasa yang masuk ke bumi.
2. Atmosfer juga melindungi bumi dari radiasi sinar matahari yang berbahaya bagi manusia.

Menurut Ahmad Abu Hamid (2008:2) pembelajaran IPA merupakan bagian integral dari upaya meneguhkan keimanan dan meningkatkan ketaqwaan siswa melalui pembelajaran dan penelitian ayat-ayat kauniyah. Oleh sebab itu guru sebaiknya mengkaitkan dan mengintegrasikan keimanan dan ketaqwaan dalam pembelajaran IPA sehingga pembelajaran IPA di madrasah benar-benar mampu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan siswa kepada Allah SWT.

Pembelajaran IPA di madrasah sebaiknya memberikan ruang gerak yang luas pada siswa untuk lebih memperkaya pengalaman belajarnya . Pengalaman belajar siswa diperoleh dan dikembangkan dari serangkaian kegiatan yang dapat mengeksplorasi alam dan lingkungan melalui eksperimen atau kegiatan praktikum IPA yang dibimbing oleh guru mata pelajarannya dan kegiatan pengamatan langsung terhadap alam melalui kegiatan study tour atau kegiatan ekstrakurikuler Kelompok Ilmiah Remaja ( KIR ). Pembiasaan siswa melakukan eksperimen diharapkan mampu menumbuhkan dan mengembangkan sikap ilmiah. Siswa dilatih untuk kreatif, teliti , mampu berfikir dan bersikap ilmiah, belajar bekerja sama dalam satu tim, saling menghargai dan belajar untuk mandiri. Kegiatan study tour ke tempat – tempat yang berhubungan dengan sains misalnya ke musium IPTEK, Sea Word, daerah pantai , pertanian , perkebunan dan hutan diharapkan mampu menambah pengetahuan siswa terhadap sains serta memberikan pengalaman belajar yang akan selalu diingat sepanjang hidupnya. Kegiatan ekstrakurikuler KIR merupakan sarana pembelajaran bagi siswa untuk berlatih menjadi seorang ilmuwan yang memegang teguh nilai – nilai obyektivitas, kejujuran dan kebenaran.

Urgensi pembelajaran sains di madrasah antara lain bahwa pembelajaran sains diharapkan mampu menanamkan dan meningkatkan keimanan atau ketakwaan siswa kepada Allah SWT, menumbuhkan sikap ilmiah, dan menanamkan budi pekerti yang baik pada siswa dalam kehidupan sehari-hari.

DILEMA PEMBELAJARAN SAINS

Oleh Ariesta Indriawati , S.Pd ----Guru Mapel IPA MTs N Majenang----


Profesi guru saat ini tengah menjadi idola baru, diberikannya tunjangan profesi bagi guru yang telah lulus sertifikasi menjadi titik kecemburuan bagi profesi lain. Tetapi sebenarnya menjadi guru profesional tidaklah mudah. Idealita pembelajaran yang dimiliki seorang guru belum tentu dapat direalisasikan dalam pembelajaran yang sesungguhnya apalagi bagi mereka yang mengampu di kelas IX. Adanya tuntutan sukses Ujian Nasional (UN) menjadikan mereka tidak dapat lagi menjunjung tinggi idealisme mereka tetapi justru terjebak pada pragmatisme bagaimana caranya meloloskan seluruh siswanya untuk sukses UN.

Dalam Standar Nasional Pendidikan Bab IV ayat (1) disebutkan bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif , inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberi ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologi peserta didik.

Salah satu materi pembelajaran yang ada di sekolah / madrasah adalah Sains atau Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) . IPA merupakan materi pembelajaran yang sangat dekat dengan alam sehingga pengamatan terhadap gejala – gejala alam menjadi bagian yang penting dalam proses pembelajaran IPA di sekolah. Pemanfaatan alam sekitar menjadi daya dukung yang kuat bagi kesuksesan proses pembelajaran sehingga diperlukan keahlian guru dalam melakukan pemilihan pendekatan, model dan metode pembelajaran yang tepat. Pemilihan model dan metode pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai tokoh sentral dalam proses pembelajaran dapat menumbuhkan dan mengembangkan kreativitas siswa sehingga siswa dapat memiliki ketrampilan belajar, ketrampilan sosial/kooperatif dan ketrampilan memecahkan masalah dengan baik dan menjadikan mereka menjadi siswa-siswa yang mandiri.

Dalam pembelajaran IPA diharapkan guru mampu menciptakan suasana pembelajaran yang menarik dan dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam pembelajaran. Pembelajaran IPA sebaiknya berorientasi pada siswa atau murid sehingga peran guru seharusnya berubah dari menentukan apa yang akan dipelajari ke bagaimana menyediakan dan memperkaya pengalaman belajar siswa. Pengalaman belajar siswa diperoleh dan dikembangkan dari serangkaian kegiatan yang dapat mengeksplorasi alam dan lingkungan melalui interaksi dengan teman, guru, atau narasumber lainnya.

Adanya tuntutan sukses ujian nasional menjadikan guru perlu berpikir ulang dalam menentukan pilihan pendekatan, model dan metode pembelajaran yang tepat dalam pembelajaran IPA di kelas IX. Pendekatan pembelajaran IPA seperti pendekatan pembelajaran inkuiri, konstruktivisme, kontekstual dan salingtemas (sains lingkungan teknologi dan masyarakat) tampaknya sulit diaplikasikan di kelas IX mengingat orientasi utama pembelajarannya adalah sukses UN dengan nilai memuaskan sehingga pola pembelajaran yang sering dilakukan oleh guru adalah dengan latihan mengerjakan berbagai macam soal supaya menjadi mudah dikerjakan dengan cepat dan tepat. Seorang guru harus pandai mencari cara smart supaya siswa mampu menghafal dengan cepat dalam waktu singkat, cerdik memilih jawaban pilihan ganda dengan tepat, benar dan cepat, serta mampu memotivasi siswa untuk mau dan mampu belajar menyelesaikan soal – soal IPA dengan ikhlas dan gembira. Langkah-langkah yang dapat ditempuh seorang guru untuk siswa – siswanya yang bersiap-siap menghadapi ujian nasional antara lain adalah dengan membuat jembatan keledai untuk menghafal berbagai rumus dan konsep, strategi berhitung dengan mudah tanpa kalkulator, menyelesaikan berbagai bentuk soal dengan melihat satuan yang terdapat pada pilihan ganda jika siswa lupa akan rumus yang harus dipakai, memberi batasan materi pembelajaran sesuai SKL, mampu membuat prediksi soal berdasarkan soal –soal ujian nasional yang telah lalu dengan menghubungkan SKL terbaru dan penguatan motivasi belajar secara kontinu pada siswa supaya siswa tidak mengalami kejenuhan dalam belajar IPA.

Kondisi seperti ini sebenarnya sangat memprihatinkan , disatu sisi bangsa kita tengah berusaha memperbaiki kualitas pendidikan negara kita tetapi disisi lain patokan atau standar yang dipakai untuk penentuan tingkat keberhasilan pembelajaran adalah dengan ujian nasional dimana bentuk soal yang dipakai adalah pilihan ganda dengan orientasi aspek kemampuan siswa yang diukur hanya meliputi kemampuan kognitif saja sedangkan kemampuan afektif maupun kemampuan psikomotor siswa menjadi terabaikan . Bentuk soal pilihan ganda jelas kurang dapat mengukur tingkat kreatifitas anak dan kemampuan analitis siswa dalam penguasaan konsep-konsep IPA.

Tampaknya guru sebagai perencana dan pembuat skenario pembelajaran harus pandai mensiasati kondisi tersebut sehingga tugas guru secara profesional tetap dapat dilaksanakan dengan baik. Idealita yang dimiliki tetap coba dilaksanakan untuk pembelajaran di kelas VII , VIII dan awal semester I kelas IX sedangkan untuk mensukseskan siswa – siswa lolos ujian nasional adalah juga merupakan tugas berat guru untuk melaksanakannya dengan baik. Mudah – mudahan di hari mendatang standar penentuan keberhasilan belajar siswa akan menjadi lebih baik dan mampu mengukur seluruh aspek kemampuan belajar siswa sehingga guru tetap dapat merealisasikan idealita mereka dalam pembelajaran yang sesungguhnya secara menyeluruh.

Enam Permasalahan Pendidikan di Banyumas

Deni Kurniawan
As'ari
SENIN (4/8) lalu, Bupati Banyumas Mardjoko melantik Drs. Purwadi Santoso, M.Hum sebagai Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik). Pelantikan ini sempat tertunda karena menunggu persetujuan DPRD, ketika calon Kadisdik itu masih menjabat sekretaris dewan. Dengan pelantikan ini, bolehkah masyarakat Banyumas memiliki ekspetasi baru tentang maju dan berkembangnya dunia pendidikan di Banyumas?

Pergantian atau rotasi pejabat dalam pemerintahan daerah merupakan hal yang lumrah. Namun yang menarik, pergantian pejabat Disdik ini dilakukan bupati hasil pilkada langsung pertama di Banyumas. Dan, sosok yang dipercaya memangku jabatan strategis itu bukanlah seorang profesional pendidikan, melainkan sosok berlatar belakang ilmu pemerintahan.

Menarik juga dicermati ketika DPRD mengajukan usul raperda pendidikan, Mardjoko sempat menolak usulan Wajib Belajar 12 tahun. Apakah beberapa sinyal itu menjadi pertanda bahwa Mardjoko kurang ngeh terhadap dunia pendidikan? Bila melihat program Mardjoko saat kampanye, terutama terkait dengan bidang pendidikan, sebenarnya harapan itu masih tetap ada. Dalam buklet atau selebaran kampanyenya, Mardjoko memiliki sembilan bidang garapan, termasuk pendidikan. Program yang ditawarkannya meliputi kesiapan untuk merealisasi anggaran pendidikan (20 % dari APBD) sesuai ketentuan perundang-undangan, memperbanyak sarana-prasarana pendidikan secara merata, memberi beasiswa kepada siswa SD, SMP, dan SMA dari keluarga miskin, serta meningkatkan kesejahteraan guru dan tenaga kependidikan.

Dalam Program 100 hari, terutama program kedua (peningkatan kesejahteraan masyarakat) point b tertulis: meningkatkan layanan pendidikan dan kesehatan dengan indikator keberhasilannya adalah warga mendapatkan layanan pendidikan dan kesehatan yang memadai (http://www.banyumaskab.go.id).

Nah, tinggal bagaimana Kadisdik dapat menerjemahkan segala kebijakan dan rencana program kampanye Mardjoko itu menjadi program riil yang menyentuh dan membawa kemanfaatan bagi masyarakat. Sebagian pihak sempat meragukan figur Kadisdik yang dilantik, terutama karena kiprah sebelumnya yang tak pernah bergelut dengan hiruk-pikuk pendidikan. Namun penunjukan kadisdik merupakan wilayah hak Bupati. Tentu ia memiliki alasan tersendiri, bahwa yang bersangkutan dapat mengemban tugas dengan baik. Sudah saatnya masyarakat memberikan kesempatan kepada Kadisdik baru untuk menjalankan tugasnya.

Di sisi lain, para ‘‘penggelut pendidikan‘‘ di Banyumas perlu introspeksi tentang masih minimnya stok calon kadisdik yang bisa ditawarkan, atau masih rendahnya bargaining position dengan Bupati Mardjoko. Mungkin mereka tidak pernah ikut dalam hiruk pikuk politik saat kampanye pilkada beberapa bulan lalu. Ada ungkapan seorang teman, bahwa politik itu adalah balas budi. Kalau tidak, ya balas dendam. Entah benar atau tidak ungkapan tersebut.


Pendidikan Murah
Ada enam permasalahan pendidikan di Banyumas yang perlu mendapat perhatian dari Bupati Mardjoko dan kadisdik baru.

Pertama, mahalnya biaya pendidikan, terutama untuk sekolah negeri setingkat SMP dan SMA. Sebagian masyarakat berkelakar, sekolah negeri dan swasta kini sama mahalnya. Alangkah indahnya kalau Bupati Mardjoko dan kadisdik memiliki program untuk membantu siswa dari keluarga tidak mampu berupa beasiswa atau sumbangan pendidikan. Syukur kalau menelurkan program pendidikan murah (SD – SMA). Dan bila memungkinkan, pendidikan gratis seperti yang sukses dilakukan Pemkab Jembrana (Bali). Semua itu tergantung dari political will dan good will Bupati.

Kedua, adanya regulasi yang jelas bagi sekolah. Besarnya sumbangan orang tua siswa baru kepada sekolah saat pendaftaran dirasa memberatkan. Sudah saatnya Dinas Pendidikan membuat regulasi untuk setiap sekolah, sehingga ada kontrol yang jelas.

Ketiga, kesejahteraan guru. Kepedulian Pemkab Banyumas terhadap kesejahteraan guru —terutama guru swasta— selama ini masih kurang, bahkan kalah dari daerah tetangga seperti Purbalingga. Sudah saatnya Bupati Mardjoko ikut memikirkan nasib mereka yang tersebar di berbagai wilayah Banyumas. Program insentif bulanan bagi guru swasta dan honorer negeri yang bersumber dari APBD layak dipertimbangkan oleh Bupati dan DPRD.

Keempat, pelayanan birokrasi pendidikan. Untuk mendukung ketercapaian program pendidikan, perlu reformasi birokrasi pelayanan pendidikan di setiap tingkatan. Selain itu, perlunya kontrol terhadap setiap pelaku pendidikan untuk meminimalisasi terjadinya praktik penyimpangan yang merugikan masyarakat. Dalam hal ini kemampuan menajerial dan ‘‘keberanian‘‘ dari Kadisdik baru menjadi sesuatu yang sangat penting.

Kelima, pemerataan fasilitas pendidikan di kota dan desa. Beberapa sekolah di kota memiliki fasilitas yang sangat lengkap dan memadai. Misal, di kelas tersedia televisi, LCD dan komputer untuk mendukung proses pembelajaran. Namun di sekolah-sekolah ndesa, banyak bangunan yang mau runtuh atau fasilitas pendukungnya jauh dari memadai.

Keenam, peningkatan kualitas dan profesionalisme guru. Sebab guru adalah ujung tombak kesuksesan pendidikan. Pemberdayaan dan peningkatan kualitas mereka perlu mendapat perhatian. Kegiatan seminar, workshop, diklat, diskusi, dan kajian keilmuan perlu digalakkan.

Akhirnya, selamat bertugas kepada Bupati Mardjoko dan Kadisdik yang baru. Teriring doa dan harapan, semoga amanah rakyat dapat ditunaikan dengan sebaik-baiknya dan rakyat pun tersenyum bahagia karena pemimpin mereka termasuk tokoh yang peduli terhadap pendidikan.

Deni Kurniawan As’ari, Guru Mapel PKn MTs N Majenang

Sumber : Suara Merdeka

URGENSI PENANAMAN SEMANGAT JUANG PADA ANAK

Oleh Ariesta Indriawati, SPd ---Guru Mapel IPA MTs Negeri Majenang----

Ariesta Indriawati
Dalam kehidupan sehari – hari seringkali kita mendengar slogan “ Hidup adalah perjuangan”. Hampir di setiap aktivitas selalu ada saja hambatan dan rintangan yang senantiasa menghadang , itulah hidup , kita harus berjuang untuk mampu melewati segala hambatan dan rintangan tersebut supaya kita menjadi orang yang kuat. Lalu bagaimana dengan anak- anak kita ,bagaimana kita membimbing mereka menjadi anak yang kuat dan tangguh sehingga merekapun mampu melewati segala hambatan dan rintangan yang mereka hadapi.

Ada sebuah cerita tentang pelajaran dari seekor kupu – kupu yang kami ambil dari hasil workshop teman – teman kami di LPMP Jawa Tengah, berikut petikan ceritanya “ Suatu hari , pada saat sebuah lubang kecil timbul di suatu kepompong, seorang pria duduk dan memperhatikan bagaimana seekor bayi kupu-kupu selama berjam-jam berjuang untuk memaksa mengeluarkan badannya melalui lubang tersebut. Akan tetapi kemudian, proses tersebut berhenti tanpa ada kemajuan lebih lanjut . Tampaknya sudah sekuat tenaga dan bayi kupu – kupu tidak bisa bergerak lebih jauh lagi. Sehingga akhirnya sang lelaki tersebut memutuskan untuk menolong kupu-kupu tersebut, diambilnya sebuah gunting untuk membuka kepompong tersebut. Dan kupu-kupu tersebut akhirnya keluar dengan mudah walau dengan tubuh yang lemah, kecil dan sayap yang mengkerut. Sang lelaki terus mengamatinya dengan berharap bahwa suatu saat sayapnya akan terbuka , membesar dan berkembang agar bisa menyangga tubuhnya dan menjadi kuat.
Tetapi ternyata tidak terjadi apa-apa dan kupu-kupu tersebut menghabiskan sisa waktu hidupnya dengan merangkak beserta tubuhnya yang lemah dan sayap yang mengkerut, tidak pernah bisa terbang. Lelaki baik dan penolong ini tidak mengerti bahwa kepompong yang menjerat maupun perjuangan yang dibutuhkan oleh kupu-kupu untuk dapat lolos melewati lubang kecil adalah cara Allah SWT untuk mendorong cairan tubuh dari kupu-kupu ke sayapnya agar kuat dan siap untuk terbang sewaktu-waktu setelah bebas dari kepompongnya nanti”.

Dari cerita tersebut dapat kita pahami bahwa perjuangan mutlak dibutuhkan dalam hidup, berbagai kemudahan yang kita berikan pada anak ataupun peserta didik kita justru membuat mereka menjadi lemah. Fenomena yang sering kita amati di lingkungan rumah atau sekolah adalah banyaknya anak – anak sekolah yang difasilitasi dengan berbagai sarana yang sebenarnya belum mereka butuhkan. Misalnya untuk pulang pergi ke sekolah anak diberi fasilitas sepeda motor , padahal usia mereka belum genap 17 tahun. Tujuan orang tua memfasilitasi sepeda motor tersebut sebenarnya baik yaitu memberi kemudahan pada anak supaya tidak terlalu lelah menunggu angkot atau berjalan kaki. Tetapi orang tua kurang menyadari bahwa dengan berbagai fasilitas yang memudahkan tersebut menjadi anak – anak mereka tidak dibiasakan belajar berjuang.

Akibat kemajuan teknologi tidak sedikit anak yang justru terjebak pada dampak buruk kemajuan IPTEK tersebut. Mereka belum mampu memanfaatkan teknologi untuk hal – hal yang positif . Pemanfaatan internet dan facebook yang tidak tepat menjadikan anak- anak didik kita menjadi pasif, kurang bersosialisasi, dan enggan melakukan aktivitas lain karena terlalu asyik dengan kegiatan internetan atau face booknya. Mereka menjadi kurang realistik dan tidak terbiasa menghadapi tantangan. Tanpa disadari mereka tumbuh menjadi anak-anak yang tidak gagap teknologi tetapi lemah secara fisik dan mental. Secara fisik duduk berjam-jam di depan computer, laptop atau HP jelas tidak sehat karena aktivitas tubuhnya sedikit lain jika anak-anak kita rajin berolah raga bersama misalnya volley atau olah raga lain jelas aktivitas tubuh lebih banyak dan ini menyehatkan. Selain menyehatkan kegiatan olah raga juga lebih mendidik karena dengan olah raga bersama anak-anak juga dilatih belajar bekerja sama dan berjuang meraih kemenangan. Sebagai orang tua , kita juga tidak menginginkan anak-anak kita menjadi anak-anak yang gaptek tetapi kita wajib memantau dan mengarahkan anak-anak kita dalam aktivitasnya sehari-hari. Kita harus pandai membimbing mereka bagaimana membagi waktu dengan baik agar seluruh aktivitasnya digunakan untuk hal-hal yang positif dan anak memiliki semangat juang yang tinggi dan motivasi untuk senantiasa menjadi yang terbaik bagi kehidupannya.

Penanaman semangat juang pada anak merupakan kewajiban kita sebagai orang tua karena kita berharap anak-anak kita kelak mampu menjadi anak-anak yang kuat , tangguh dan mandiri. Mereka mampu menghadapi segala kesulitan hidup dan mampu menerima segala cobaan hidup dengan tabah dan tawakkal sehingga kitapun sebagai orang tua wajib menanamkan nilai-nilai keimanan pada anak supaya anak kita pun menjadi anak yang kuat secara fisik dan mental.

Seekor ulat untuk bisa berubah menjadi kupu-kupu perlu berjuang sekuat tenaga dalam melewati tahapan-tahapan metamorphosis yang harus dilaluinya mulai dari telur berubah jadi ulat kemudian menjadi kepompong dan akhirnya menjadi seekor kupu-kupu.

Selain orang tua, guru atau pendidik juga memiliki kewajiban yang sama dalam menanamkan semangat juang pada peserta didik. Dalam kurikulum pendidikan dikenal istilah pendidikan karakter. Walaupun secara tersurat tidak ada penegasan jelas bahwa kita wajib menanamkan semangat juang pada peserta didik tetapi secara tersirat itu merupakan tugas bersama guru dalam pembentukan kepribadian peserta didik agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang kuat, tangguh, jujur dan mandiri.

Sebagai seorang pendidik, guru wajib membiasakan anak bersikap jujur dan bertanggung jawab. Tugas – tugas yang diberikan pada peserta didik tidak dapat dinilai hanya dengan melihat hasil akhirnya saja tetapi bagaimana tahapan proses penyelesaian tugas tersebut dilaksanakan. Apakah anak menyelesaikan sendiri tugasnya tanpa mencontek temannya, apakah anak tersebut menyelesaikan tugas itu sendiri atau dikerjakan oleh orang lain. Dari sini seorang guru harus mampu memberi penghargaan pada peserta didiknya yang menyelesaikan tugas-tugasnya dengan jujur dan dengan perjuangannya sendiri sehingga kita dapat menilai pendidikan karakter anak dalam dimensi kejujuran dan semangat juangnya.

Penanaman semangat juang pada peserta didik di sekolah dapat juga dilakukan melalui kegiatan ekstrakurikuler seperti pramuka, PMR, PKS, pecinta alam dan kegiatan lain seperti out bond. Kegiatan out bond misalnya dapat melatih anak dalam meningkatkan kemampuan bekerjasama, rasa percaya diri, tanggung jawab, berani dan membangun semangat juang yang tinggi untuk mampu melewati segala rintangan yang dihadapinya.

Bangsa kita membutuhkan kader- kader bangsa yang kuat, tangguh dan mandiri sehingga selamanya kita tak pernah terjajah lagi oleh bangsa manapun juga. Merupakan tanggung jawab kita bersama sebagai orang tua untuk senantiasa memberikan bimbingan yang tepat dalam mengarahkan anak-anak kita agar menjadi kader bangsa yang senantiasa membela bangsanya dengan kekuatan dan ketangguhannya karena mereka senantiasa memiliki semangat juang yang tinggi demi kebesaran bangsanya.

Info MTs