Select Menu

Prestasi

Karya Siswa

Profil Siswa

Karya Guru

Profil Guru

Info Pendidikan

Sebanyak 250 Guru Madrasah Akan di S2-kan

Jakarta – Direktorat Pendidikan Madrasah (Dit. Pendidikan Madrasah) akan terus mengembangkan sumber daya guru melalui prgoram beasiswa bagi guru madrasah. Untuk itu, tahun 2013 ini, Dit. Pendidikan Madrasah akan memberikan beasiswa S-2 kepada para guru madrasah.

Hal ini dikemukakan oleh Direktur Pendidikan Madrasah Ditjen Pendidikan Islam Dedi Djubaedi ketika ditemui di kantornya, Selasa (27/05).

Menurut Dedi Djubaedi, dalam mengembangkan sumber daya guru, akan dilakukan melalui program beasiswa, dan tahun ini dialokasikan untuk 250 guru. “(Itu) diluar program-program pengembangan lainnya,” terangnya.

Dedi Djubaedi menjelaskan, bahwa program ini diharapkan dapat memotivasi para pendidik dalam menjalankan tugas profesionalnya secara cerdas dan amanah. “Kita berharap pendidikan madrasah lebih maju, if you don’t down you don’t change if you don’t change you die,” tegasnya.
Senada dengan itu, Kasubdit Tenaga Pendidik dan Kependidikan Dit. Pendidikan Madrasah A. Syafi’i menjelaskan bahwa pemberian beasiswa ini, didasari semangat untuk meningkatkan kompetensi dan kualifikasi guru madrasah. “Biar mereka lebih kompeten yang berujung pada peningkatan kompetensi lulusan, itu yang kita harapkan,” imbuhnya.

Syafi’i juga menjelaskan bahwa program beasiswa seperti ini pernah dilaksanakan oleh Dit. Pendidikan Madrasah pada 2009. “Hasilnya luar biasa, prestasi mereka di perguruan tinggi umum pun sangat membanggakan,” tukasnya.

“Kini, mereka menjadi master teacher di lingkungan mereka mengajar, sebagai penggerak,” tambahnya.
Syafi’i melanjutkan, bahwa beasiswa ini diperuntukan bagi para guru madrasah, PNS maupun Non-PNS, mapel umum maupun agama. Selain itu, lanjut Syafi’i, mereka tentu harus lulus seleksi perguruan tinggi yang ditunjuk dan diminati oleh calon penerima besasiswa.

“Saat ini masih tahap penelaahan program studi yang akan dikelompokkan menjadi dua rumpun mata pelajaran, umum dan agama,” paparnya.

Menurutnya, kampus yang akan dipilih adalah perguruan tinggi yang terakreditasi menimal ‘Baik’ menurut Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). “Saat ini, kita masih belum menunjuk perguruan tingginya,” tuturnya. (stl)

Madrasah Lebih Baik dan Lebih Baik Madrasah

Bapak Nur Syam (kanan)
Jakarta (Pinmas)—Madrasah kini sudah memiliki prestasi yang luar biasa. Secara kualitas, madrasah sudah tidak kalah dengan sekolah lainnya. Hal itu ditunjukan dengan banyaknya prestasi yang diraih madrasah, negeri maupun swasta.

“Madrasah lebih baik dan lebih baik madrasah,” demikian pesan dan penegasan Dirjen Pendidikan Islam, Nur Syam, ketika memantau pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI) di MIN 16 Cipayung dan MI Pesantren Al-Hamid, Jakarta Timur, Senin (6/5).

Dalam kunjungan ini, Nur Syam didampingi Kakanwil Kemenag Prov. DKI Jakarta, Akhmad Murtadlo, dan sejumlah pejabat Kemenag lainnya.

Menurut Nur Syam, madrasah lebih baik karena pada kenyataannya terdapat pergerakan signifikan yang mengarah pada peningkatan mutu, kualitas, dan daya saing, terutama jika dilihat dari prestasi yang telah diraih.

“Hasil UN Madrasah sekarang sudah sebanding dengan sekolah,” kata Nur Syam mencontohkan.
Kalau hasil UN baik dan prestasi banyak diraih, , lanjut Nur Syam, maka hal itu akan memberikan image positif tentang madrasah kepada masyarakat. “Itu terbukti dengan semakin banyaknya minat masyarakat menyekolahkan anaknya di MIN 16 ini,” terang Nur Syam.

Sebelumnya, Kepala MIN 16, M. Zubad, memaparkan bahwa minat orang tua murid untuk menyekolahkan anaknya di MIN 16 Cipayung memang sangat besar. Pada tahun pelajaran 2013/2014 yang akan datang, MIN 16 sudah membukan pendaftaran, namun hanya bisa menerima 84 siswa saja. Padahal yang mendaftar mencapai 600 siswa.

Distingsi dan Ekselensi
Seiring terus membaiknya mutu dan kualitas, Nur Syam meminta agar ke depan, madrasah harus mempunyai distingsi dan ekselensi.

“Setiap madrasah harus mempunyai kelebihan dan keunggulan. Distingsi madrasah ini apa, jika dibandingkan sekolah atau madrasah lainnya? Keunggulan dan ekselensi juga seperti apa?” kata Nur Syam.
Nur Syam mencontohkan bahwa Bupati lamongan pernah mendapatkan penghargaan dari salah satu lembaga yang dipimpin oleh Hermawan Kertajaya karena mewajibkan seluruh sekolah dan madrasah untuk belajar Bahasa Mandarin.

“Distingsi seperti ini harus kita fikirkan,” tegas Nur Syam.

“Saya senang ketika ada madrasah yang memprogramkan hafalan 1 juz per tahun sehingga kalau 6 tahun, siswa madrasah bisa hafal 6 juz. Ini adalah distingsi,” tambah Nur Syam.

Nur Syam menegaskan bahwa Kemenag mencanangkan agar madrasah mempunyai distingsi dan ekselensi ini pada 2020. “Kalau sekarang kita masih berkutat pada perluasan akses dan peningkatan mutu, tahun 2020 kita harus menuju pada distingsi dan ekselensi,” kata Nur Syam.

“Ini harus dimulai dari sekarang. Sebab prestasi tidak diraih secepat kilat. Bikin perkembangan berjenjang. If you think you can, you really can,” tutup Nur Syam. (mkd)

Kemenag Rencanakan PKG Untuk 40.000 Guru PAI

Jakarta (Pinmas) – Sebanyak 40.000 guru Pendidikan Agama Islam (PAI) pada tahun 2013 ini akan diikutkan dalam Pelatihan Kompetensi Guru (PKG) yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Agama Islam Ditjen Pendis Kemenag RI. Demikian dikatakan oleh Direktur PAI, Dr. Amin Haedari ketika ditemui di ruang kerjanya, Jakarta, Kamis (20/3).

Menurutnya, semua guru PAIpada akhirnya akan mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pelatihan ini, namun karena keterbatasan anggaran, tahun ini baru bisa melibatkan 40.000 guru saja.

“Tahun ini jumlah guru PAIyang diikutkan dalam pelatihan lebih banyak karena tahun kemarin (2012) guru yang diikutkan dalam pelatihan hanya 17.300 guru, atau sekitar 9 persen dari jumlah seluruh guru PAI yang ada.” ungkapnya.

Tujuan PKGini adalah untuk meningkatkan kompetensi guru agama Islam dalam melaksanakan tugas-tugas pembelajaran di sekolah. “Kemampuan guru PAIharus selalu di-charge secara berkala agar mereka tidak tertinggal. Dunia pendidikan itu dinamis, jadi memerlukan pengembangan kemampuan terus-menerus,” terangnya.

“Ini juga untuk memperkuat profesionalisme guru setelah mereka disertifikasi,” tambahnya.
Namun demikian, Amin mengatakan bahwa khusus tahun ini, materi PKG akan difokuskan seputar Kurikulum 2013. “PKG tahap pertama ini akan kita fokuskan untuk sosialisasi dan
implementasi Kurikulum 2013,” ujarnya.

Menurut Amin, guru PAI harus secepatnya mengetahui perubahan kurikulum ini. Sebab, hal itu akan berdampak pada proses dan hasil pembelajaran.

Seperti diketahui, pengajaran PAi di sekolah umum dalam Kurikulum 2013 ini jumlah jam pelajarannya ditambah, dari dua jam menjadi empat jam pelajaran. Hal ini memerlukan pemahaman yang lebih detail dari guru PAI, baik yang menyangkut perangkat pembelajaran, proses pembelajaran, maupun out putnya.
Pelatihan ini rencananya juga akan melibatkan para pejabat PAI yang ada di daerah. “Karena struktur PAIdi daerah masih baru, mereka akan kita libatkan dalam pelatihan ini agar dalam melaksanakan tugasnya mereka lebih menjiwai,” imbuhnya. [M30]

300 Ribu Guru Madrasah Sudah Sertifikasi

Bogor (Pinmas)—Sekjen Kementerian Agama Bahrul Hayat PhD menyatakan, pihaknya tengah memproses sertifikasi guru madrasah baik guru negeri maupun swasta. Sampai saat ini sudah sekitar 300 ribu guru madrasah di tanah air yang telah menempuh proses sertifikasi.

“Seluruhnya guru madrasah sekitar 650 ribu, memang belum sampai 50 persen yang sudah sertifikasi,” kata Bahrul Hayat usai mengisi materi pada workshop peningkatan wawasan penelitian pendidikan agama dan keagamaan, Rabu (29/8) menjelang tengah malam. Kegiatan yang diselenggarakan Pusat Litbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Kemenag di Hotel Lor In Sentul, Bogor berlangsung 28-30 Agustus.
Seluruh proses sertfikasi guru madrasah di lingkungan Kementerian Agama, kata Sekjen, ditargetkan dapat rampung tahun 2014. “Peningkatan kualitas pendidikan di tanah air tidak terlepas dari perbaikan kualitas guru,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Sekjen juga memaparkan tentang buku yang bertajuk Benchmark Internasional Mutu Pendidikan yang ditulis pejabat kelahiran Tasikmalaya ini yang mengupas soal kebijakan pendidikan yang dinilai telah bergeser dari input-oriented ke outcome-based.

Menurut alumnus S-2 Universitas Pittsburgh (1989) dan S-3 Universitas Chicago, Amerika Serikat (1992) ini perbaikan dan peningkatan mutu masukan dan proses pendidikan harus merupakan upaya penjabaran untuk mencapai expected outcome tadi. Oleh karena itu, standardisasi expected outcome dalam bentuk kompetensi menjadi titik awal untuk standardisasi masukan dan proses pendidikan.

Selain itu, pada era globalisasi, telah terjadi mutual recognition antarnegara tentang kualifikasi lulusan ini, sehingga meniscayakan adanya proses nasionalisasi dan transnasionalisasi kompetensi lulusan lembaga pendidikan. Kompetensi lulusan itu bergeser dari local specific ke global universal sebagai survival kit untuk dapat bertahan pada era mendatang.

Pola pikir ini telah sejak lama menjadi bagian dari diskusi-diskusi pakar pendidikan di Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) dan International Association for the Evaluation of Education Achievement (IEA), yang kemudian menghasilkan upaya benchmarking internasional mutu pendidikan.

Buku tersebut membahas studi internasional yang diadakan oleh OECD dan IEA, yaitu Program for International Student Assessment (PISA), Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS), dan The Third International Mathematics and Science Study (TIMSS). Hasil studi itu telah mengingatkan bahwa sistem pendidikan di negeri ini perlu penataan baru agar senantiasa berperan merintis dan memantapkan kemajuan kehidupan mendatang dalam peradaban yang tinggi, indah, dan bermartabat.

“Potensi manusia dapat dikembangkan secara proposional jika pendidikan, literasi bahasa, matematika dan sains dilakukan secara terintegrasi,” kata Sekjen Bahrul Hayat. (ks)

Guru Harus bisa Digugu lan Ditiru

Cilacap (30/6) - Tidak kurang dari 500 orang terdiri dari guru, kepala madrasah,  dan pengawas RA/madrasah di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kab. Cilacap siang ini mengikuti Pembinaan Pendidikan oleh Kakanwil Kemenag Prov. Jawa Tengah dan Sosialisasi Beban Kerja Guru yang diselenggarakannya di Aula BKM Kab. Cilacap. 

Selain Kakanwil, acara ini dihadiri pula oleh Kepala Bidang Mapenda - H. Jamun, Kasi Ketenagaan dan Kesiswaan - H. Shalehuddin, Kepala Kankemenag Kab. Cilacap H. Mughni Labib beserta para kasi di lingkungan Kementerian Agama Kab. Cilacap.

Kakankemenag melaporkan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran, meningkatkan wawasan guru tentang beban mengajar bagi guru RA dan madrasah. Jumlah lembaga pendidikan RA sebanyak 143, MI sebanyak 177, MTs sebanyak  62, dan MA sebanyak 18. Pada kegiatan Expo Madrasah di Bandung Tahun 2012, madrasah dari Cilacap meraih Stand terbaik dan Juara III pembuatan film pendek. ''Alhamdulillah berkat usaha keras dari kita semua prestasi madrasah di Kab. Cilacap semakin meningkat'', lanjutnya.

Orang Jawa mengatakan bahwa guru itu digugurkan dan ditiru, artinya segala gerak, ucapan, dan tingkah laku guru mempunyai peranan yang sangat penting dan menjadi panutan bagi murid-muridnya. Begitu pentingnya posisi guru dalam proses pendidikan sehingga guru dituntut untuk selalu memperdalam kemampuan keilmuan serta prefesionalismenya. Lebih utama, guru harus bisa menjadi teladan yang baik bagi murid. Hal itu disampaikan oleh Kepala Kanwil dalam acara ini. ''Jangan sampai murid kita nantinya menjadi generasi yang lemah. Lemah ilmunya, lemah imannya, lemah ekonominya karena mereka tidak punya panutan'', lanjut Imam.

Kakanwil juga mengingatkan bahwa apa yang saat ini ditekuni sebagai guru juga merupakan amanat Allah yang sangat besar, oleh karenanya guru harus mempunyai komitmen yang kuat untuk memajukan pendidikan di madrasah sehingga madrasah benar-benar menjadi lembaga pendidikan yang unggul dan berkarakter akhlaqul karimah. Jika para murid sudah memiliki karakter akhlaqul karimah, sudah barang tentu para orang tua akan mencari lembaga pendidikan terpercaya untuk mendidik putra putri mereka.

Imam Haromain mengajak para guru mengambil i'tibar peristiwa Isra' Mi'raj dengan melaksanakan penyucian diri guru dan siswa sebelum melaksanakan pembelajaran. Hal demikian akan mempermudah proses internalisasi nilai-nilai pendidikan selain sebagai teladan bagi murid. (fat)

Sumber: Kemenag Jateng

Madrasah Siap Membangun Budaya Berprestasi

Jakarta (Pinmas)—Direktur Pendidikan Madrasah Kementerian Agama Dedi Djubaedi menyatakan, lembaga pendidikan madrasah siap membangun budaya berprestasi. Upaya tersebut dengan menggelar beragam kegiatan antara lain kompetisi sains madrasah (KSM), expo madrasah dan rembug nasional guru madrasah.

“Madrasah mengalami peningkatan mutu, kualitas dan prestasi baik nasional dan internasional. Salah satunya pada Ujian Nasional, nilai kelulusan Madrasah Tsanawiyah (MTs) lebih tinggi dari sekolah,” kata Dedi Djubaedi kepada pers di Jakarta, Rabu (20/6).

Ia menjelaskan, kompetisi sains madrasah, expo madrasah dan rembug nasional guru madrasah akan dilaksanakan di Bandung, Jawa Barat pada 25-29 Juni mendatang, direncanakan Menteri Agama Suryadharma Ali akan membuka acara yang bakal dihadiri 4.000 peserta dan tamu undangan dari seluruh Indonesia.

“Hakekatnya kita memiliki potensi yang luar biasa baik siswa maupun guru madrasah seperti MAN Insan Cendekia di Serpong dan Gorontalo,” tandas Dedi.

Adapun kegiatan KSM, dilaksanakan bekerjasama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB). Kegiatan ini bertujuan untuk dapat memetakan kompetensi siswa madrasah pada bidang yang dikompetisikan dalam skala nasional maupun internasional.

“Kegiatan tersebut juga diharapkan mampu memupuk motivasi bagi siswa untuk terus mencintai dan bergairah mempelajari bidang sains disamping memiliki dan mengamalkan ajaran agama Islam yang kuat serta berakhlak karimah,” jelas Dedi didampingi para Kasubdit di Mapenda.

Selain itu lanjut dia, kegiatan tersebut untuk membuktikan kepada masyarakat umum bahwa pendidikan di madrasah tidak hanya mengajarkan pelajaran agama Islam, tetapi juga pendidikan sains dan teknologi. “Dengan kegiatan ini diharapkan dapat teridentifikasi potensi-potensi siswa-siswi madrasah yang akan diproyeksikan mengikuti Olimpiade Sains Internasional,” imbuhnya.

Adapun bidang yang dilombakan meliputi mata pelajaran matematika, fisika dan bilologi dan ekonomi, termasuk mata pelajaran keagamaan. Dalam kesempatan itu, panitia juga menggelar expo madrasah serta festival film pendek madrasah (ffpm). Syarat film yang dilombakan antara lain film itu harus di up date di youtube.

Mengenai acara rembug nasional guru madrasah, Direktur Pendidikan Madrasah mengatakan dengan kegiatan itu diharapkan seluruh guru madrasah memiliki kesamaan visi dan misi dalam upaya meningkatkan peningkatan pengembangan mereka.

Saat ditanya apakah ada madrasah yang roboh, ia mengatakan bahwa sesuai amanat Menteri Agama tidak boleh lagi ada madrasah yang roboh. “Saat ini ada 65.372 madrasah baik ibtidaiyah, tsanawiyah dan aliyah, kita berupaya meningkatkan mutu maupun prestasi termasuk membantu siswa, juga tidak boleh ada yang ingin masuk madrasah karena tidak punya uang,” tandas Dedi Djubaedi. (ks)

Kompetisi Sains Madrsah (KSM) di Bandung Hadirkan 4000 Guru

Jakarta (15/6). Kompetisi Sains Madrasah (KSM) Direktorat Pendidikan Madrasah Diten Pendis Kementerian Agama (Kemenag) siap digelar di Hotel Harris Bandung, tanggal 25 – 29 Juni 2012. Kegiatan ini akan dibuka Menteri Agama RI Suryadharma Ali. Direncanakan 4000 orang guru dari berbagai daerah di Indonesia menghadiri upacara pembukaan ini.  “Persiapan pelaksanaan sudah maksimal,” ujar Kasubdit Kesiswaan, Dr. Sastra Juanda.
Rangkaian Kegiatan KSM terdiri dari:
  1. Kompetisi Sains Madrasah jenjang Madrasah Tsanawiyah (MTs)
Ø  Matematika
Ø  Fisika
Ø  Biologi
  1. Kompetisi Sains Madrasah jenjang Madrasah Aliyah (MA)
Ø  Matematika
Ø  Fisika
Ø  Biologi
Ø  Kimia
Ø  Ekonomi
  1. Lomba Guru dan Siswa
  2. Seminar
  3. Stand Madrasah
  4. Rembug Guru Nasional
Ø  Matematika
Ø  Fisika
Ø  Biologi
Ø  Kimia
Ø  Ekonomi

Di tempat yang sama diselenggarakan Ekspo Madrasah Education Development Project (MEDP) dan Rembuk Nasional Guru Madrasah (Remnas GM). Forum ekspo menampilkan lomba-lomba yang  berbasis pengembangan kreativitas dan inovasi siswa, antara lain lomba leadership, Majalah Dinding (mading), Lomba Karya Ilmiah Remaja (L-KIR). Sementara Remnas GM menyelenggarakan workshop yang diikuti oleh perwakilan guru dari seluruh propinsi di Indonesia dalam rangka merumuskan langkah-langkah strategis peningkatan mutu guru madrasah. (*)

Dirjen Pendis Berharap Seluruh Madrasah Terakreditasi Pada 2013

Jakarta (Pinmas)—Kementerian Agama menargetkan, seluruh madrasah mulai dari madrasah ibtidaiyah (MI), madrasah tsanawiyah (MTs), dan madrasah aliyah (MA) terakreditasi pada 2013. Saat ini, masih ada 28.000 madrasah (49 persen) belum terakreditasi.

“Baru 51 persen yang sudah terakreditasi,” ujar Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama Nur Syam saat melakukan monitoring pelaksanaan ujian akhir sekolah berstandar nasional (UASBN) di Madarasah Ibtidaiyah Negeri Pondok Pinang, Jakarta Selatan, Selasa (8/5).

Ditegaskan Nur Syam, soal akreditasi madrasah ini merupakan salah satu indikator yang menjadi fokus perhatiannya berkaitan dengan kualitas lembaga pendidikan. Hal lainnya adalah menyangkut Ujian Nasional dan masalah pelayanan.

Lebih jauh, dia berharap, ke depan ada semacam pusat pengembangan akreditasi. Nur Syam mencontohkan, tempatnya bisa saja di MAN 4 Pondok Pinang. Menurut catatan, MAN 4 ini sendiri sudah mendapat akreditasi A. “Center of Acreditation of Madrasah. Itu harus ada,” tegasnya.

Nur Syam menjelaskan, soal akreditasi mengindikasikan sudah maju atau tidaknya lembaga.
Selanjutnya, soal Ujian Nasional. Ini merupakan salah satu ukuran standar nasional lulusan. Nur Syam optimistis, siswa-siswa madrasah akan sukses pada UN 2012.

“UN itu penting. Kita berharap angka kelulusan 100 persen,” katanya. Dia menuturkan, target angka kelulusan 100 persen itu bukan merupakan sesuatu yang utopis. 

Terakhir, indikator terkait dengan kualitas lembaga pendidikan ini adalah menyangkut pelayanan. Dia mencontohkan, raihan sertifikat ISO dan kualifikasi internasional.

Menurut Nur Syam, madrasah juga harus diperkuat dengan program excellencies.
“Melalui program-program yang dianggap unggulan dan diakui,” katanya.
Selanjutnya, setiap lulusan tidak hanya dilengkapi ijazah, tapi juga sertifikat yang diakui secara internasional. Misalnya menyangkut kemahiran berbahasa asing. “Tentunya, kita akan bangga punya lembaga pendidikan yang bagus. Ke depan ini agar diketahui masyarakat,” katanya.(pr/agus)

Info MTs